Kategori
Uncategorized

Dampak

Kenapa media memberitakan kematian akibat corona lebih masif ketimbang 30 ribu kematian per tahun akibat kecelakaan lalu lintas, kematian 300 ribu akibat TBC per tahun, dan penyebab kematian lainnya yang lebih besar? Ini empat alasan utamanya.

1. Sesuatu yang baru itu sangat disukai pembaca/pemirsa karena rasa ingin tahu mereka.
Virus Corona ini baru hadir dan langsung menjangkiti puluhan ribu orang. Bisa bikin mati cepat pula. Padahal kasus lain akibat gaya hidup juga berisiko kematian juga banyak. Tapi kalau diberitakan tiap hari, nggak terlalu menarik. Orang kena kanker tenggorokan karena rokok, sakit jantung karena kolesterol, AIDS karena seks bebas. Tapi tetap aja orang makan jeroan, rokok habis bisa tiga bungkus sehari, berganti-ganti pasangan seks tanpa mau pakai kondom saat ngeseks.
Tapi kalau penyebab lama, kemudian ada kasus baru, menarik lagi, diberitakan lagi. Contoh, ketika wabah virus Corona ini selesai, berkurang juga ketertarikan orang. Tapi nanti kalau muncul lagi, meledak lagi, heboh lagi. Orang akan menghubungkan lagi novel yang bahas senjata Wuhan-400.
2. Sesuatu yang berdampak luas itu menyita perhatian pembaca/pemirsa.
Jumlah kematian yang mencapai ribuan dalam waktu singkat ini menyita perhatian. Saat ada kematian jumlah besar, khalayak tertarik karena mereka bisa saja mati karena itu. Jika pada saat yang bersamaan, contoh kasus gempa dashyat yang menewaskan ratusan dan merusak ratusan rumah, wartawan akan memilih angle jumlah yang meninggal daripada harta benda yang rusak. Kenapa? Nyawa lebih penting dan menyita perhatian daripada harta.
3. Berita itu harus aktual. Aktual berarti baru saja terjadi. Sesuatu yang baru terjadi akan terus dibicarakan orang. Makan jeroan bisa bikin kolesterol naik itu sudah biasa. Jadi nggak aktual, nggak ramai dibicarakan. Kalau mau bahas sesuatu yang lama, harus ada cantolan beritanya supaya jadi enak dibahas lagi.
4. Kejadian itu melibatkan public figure. Contoh, ada orang serangan jantung dan mati seketika. Kalau yang mati orang biasa, nggak terkenal, ya biasa aja. Nggak ada beritanya. Tapi ketika yang kena artis, beritanya muncul di berbagai media. Makin terkenal, makin menyita perhatian.

Hal yang harus dipahami orang awam.
Berita itu tidak sepenuhnya objektif. Ketidakobjektifan berita salah satunya dipengaruhi kemampuan, keterampilan, dan empati wartawan. Contoh, tahun 2008 saya menulis tentang kasus HIV/AIDS di Bali. Ketika di lapangan saya menemukan kasus-kasus HIV terjadi pada bayi-bayi baru lahir, ibu rumah tangga yang di rumah saja dan tinggal di kaki Gunung Agung karena perilaku seks yang tidak aman suaminya, saya menentukan sikap. Sikap saya, tulisan ini harus memberikan edukasi terkait HIV/AIDS dengan judul yang menarik, Kelak tak Ada lagi Putu di Bali.
Putu di Bali itu menunjukkan anak pertama. Putu yang saya temui, bayi berusia tiga bulan yang tertular karena ibunya tidak terdeteksi HIV, proses melahirkan normal. Ibunya tertular dari ayahnya.
Di lapangan, subjektivitas saya sudah jelas: saya berpihak kasus HIV ini bisa ditangani secara baik, masyarakat memahami mengenai virus ini agar orang tidak memberikan stigma negatif kepada orang dengan HIV/AIDS.

Hal yang harus dipahami wartawan dan redaktur.
Pikirkan dampak yang akan terjadi dari hasil kerja kalian. Tiap berita memiliki dampaknya bagi masyarakat. Dampak apa yang ingin kalian sampaikan dengan tidak keluar dari rambu-rambu jurnalistik?
Pemikiran saya soal dampak ini terjadi ketika saya menerima telepon dari pembaca atas tulisan saya beberapa tahun silam. Ketika itu saya menulis ramalan dari seorang paranormal yang menyatakan akan terjadi gempa di Bali. Seorang warga dari kaki Gunung Batur yang membaca tulisan saya menelepon dan bertanya, kapan kira-kira terjadi? Saya tinggal di kaki Gunung Batur. Saya terkejut bukan kepalang. Saya lupa memikirkan dampak dari tulisan saya. Saya ingat betul, saya menjawab, itu hanya ramalan Pak, bisa terjadi bisa tidak. Tapi saya merasa sungguh bersalah. Saya tidak memikirkan dampaknya. Ada orang yang khawatir karena tulisan saya itu.
Ketika menulis tentang sebuah ramalan, ingatlah bahwa namanya ramalan, belum tentu terjadi. Wartawan harus menyampaikan informasi yang berimbang, apakah paranormal ini pernah ramalannya tidak terbukti. Sejak itu, saya memikirkan dampak yang akan muncul dari hasil kerja saya lebih dulu.
Begitu juga dalam pemberitaan virus Corona ini. Wartawan dan redaktur, wajib tahu dampak atas karya mereka. Kalau hanya sekadar memberitakan tanpa edukasi, kita hanya memunculkan kekhawatiran berlebihan bagi masyarakat lebih luas. Untuk apa? Bukankah lebih baik ikut berkampanye agar masyarakat bisa menjaga kesehatan lebih baik, mendorong pemerintah melakukan perbaikan sistem kesehatan (bukan sekadar tanya tentang kasus ini dan memilih judul menarik untuk click bait, yang isinya malah jauh dari esensi), atau hal yang lebih bermanfaat lainnya. Jika menampilkan masalah, tampilkan pula solusinya.
Bukankah menjadi orang bermanfaat bagi banyak orang itu harapan kita? Waspada virus Corona boleh, takut berlebihan jangan.

Ratna Hidayati

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.