Pemberitaan Kasus KDRT di Media Massa Bali

Tingginya angka kekerasan dalam rumah tangga tak serta-merta membuat pemberitaan kasus tersebut di media massa meningkat. Berdasarkan data yang tercatat di Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan Provinsi Bali, pada tahun 2004 kasus kekerasan dalam rumah tangga terhitung 7 kasus, meningkat menjadi 35 kasus pada tahun 2005, dan 81 kasus pada tahun 2006. Namun jika dicermati, pemberitaan media massa mengenai kasus tersebut masih bisa dihitung dengan jari. 

Media massa memunyai peran penting dalam memengaruhi opini publik. Di sisi lain, media massa memiliki pijakan untuk mengarahkan sebuah pemberitaan, termasuk pemberitaan kasus kekerasan dalam rumah tangga. Kebijakan dalam arah pemberitaan yang dipilih oleh sebuah media massa dalam pemberitaan kasus kekerasan dalam rumah tangga bisa berdampak positif maupun negatif. Positif, jika media massa tersebut mengambil posisi sebagai agen konstruksi. Sebagai agen kontruksi, media menentukan bagaimana realitas digambarkan. Berita bukan cermin dari suatu realitas. Berita adalah  hasil konstruksi wartawan dan media.[1] Media yang berbeda bisa menghasilkan gambaran beragam mengenai kasus kekerasan dalam rumah tangga. 

  Lanjutkan membaca

Ditulis pada Gender | Tinggalkan komentar

Aborsi, Sebuah Potret Buram Pelayanan Kesehatan bagi Perempuan

Awal bulan Februari tahun lalu, warga Denpasar, Bali dihebohkan penangkapan sarjana kedokteran gigi yang melakukan praktik aborsi ilegal. Tersangka Arik Widiantara mengaku menerima empat sampai lima pasien per hari selama empat tahun dengan tarif bervariasi, Rp 600 ribu hingga Rp 4 juta/orang. Jika dihitung rata-rata empat pasien/hari, Arik telah melakukan aborsi terhadap 5.840 pasien! Dengan peralatan seadanya dan jauh dari standar, empat di antara pasien Arik meninggal dunia dan enam orang dikabarkan harus berobat ulang ke rumah sakit karena menderita infeksi rahim. Arik pun menerima ganjarannya. Ia diseret ke meja hijau. Sayang, Arik hanya dinyatakan sebagai tersangka pembantu dalam kasus tersebut. Sedangkan tersangka utama ditujukan kepada para perempuan pelaku aborsi.

Lanjutkan membaca

Ditulis pada Gender | 1 Komentar