<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>ratnahidayati.com</title>
	<atom:link href="http://ratnahidayati.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ratnahidayati.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Sat, 21 Aug 2010 03:39:44 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
		<item>
		<title>KamasanBali Hasilkan 3.000 – 5.000 Kepeng Sehari: Sekali Upacara bisa Pakai 100 Ribu Keping</title>
		<link>http://ratnahidayati.com/2009/07/kamasanbali-hasilkan-3-000-5-000-kepeng-sehari-sekali-upacara-bisa-pakai-100-ribu-keping/</link>
		<comments>http://ratnahidayati.com/2009/07/kamasanbali-hasilkan-3-000-5-000-kepeng-sehari-sekali-upacara-bisa-pakai-100-ribu-keping/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 13 Jul 2009 07:18:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ratna</dc:creator>
				<category><![CDATA[Umum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://erhanana.wordpress.com/?p=304</guid>
		<description><![CDATA[SEBAGAI pangempon pura, Jero Mangku Gede Ketut Telaga Pura Agung Gunung Raung di Taro, Gianyar, memerlukan uang kepeng sebagai bahan yadnya dalam upacara keagamaan. Jumlahnya tak bisa ditentukan; bisa hanya puluhan saat upacara di rumah sehari-hari atau ratusan saat ada &#8230; <a href="http://ratnahidayati.com/2009/07/kamasanbali-hasilkan-3-000-5-000-kepeng-sehari-sekali-upacara-bisa-pakai-100-ribu-keping/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>SEBAGAI <em>pangempon</em> pura, Jero Mangku Gede Ketut Telaga Pura Agung Gunung Raung di Taro, Gianyar, memerlukan uang kepeng sebagai bahan <em>yadnya</em> dalam upacara keagamaan. Jumlahnya tak bisa ditentukan; bisa hanya puluhan saat upacara di rumah sehari-hari atau ratusan saat ada <em>odalan </em>besar di pura. Uang kepeng diyakininya bisa memperkuat aura pura.<span id="more-304"></span></p>
<p>Uang kepeng atau <em>pis bolong</em> sudah menjadi bagian hidup masyarakat Bali sejak dulu. Fungsinya, sebagai alat pembayaran dan sarana upacara. Penggunaan uang kepeng sebagai alat pembayaran pertama kali disebut Stephen DeMeulenaere dalam situs <em>appropriate-economics.org,</em> sekitar tahun 900 M.  Situs <em>babadbali.com</em> menyebutkan, berdasarkan bukti-bukti prasasti Sukawana A1 yang berangka tahun 882 Masehi, uang kepeng diduga telah memunyai fungsi dalam hubungannya dengan upacara agama Hindu di Bali. Menurut Ida Bagus Sidemen dalam buku “Nilai Historis Uang Kepeng”, sejak tahun 1950-an, uang kepeng mulai berangsur-angsur kehilangan fungsinya sebagai uang kartal dan nilai religiusnya merosot karena kurang mendapat perhatian masyarakat Bali. Meski begitu, kebutuhan akan uang kepeng tetap ada untuk kepentingan upacara.</p>
<p>“Dulu uang kepeng Cina yang dipakai di Bali,” ujar I Made Sukma Swacita, pendiri industri uang kepeng KamasanBali. Karena uang kepeng kian langka, ada keinginan agar uang kepeng tak punah. Melalui  SK Gubernur No. 68 Tahun 2003, dibentuk Bali Heritage Trust, lembaga yang bertugas melakukan upaya-upaya melestarikan budaya Bali, salah satunya uang kepeng. Dalam uang kepeng Cina, yang tergambar adalah nama kaisar yang berkuasa saat pembuatan uang kepeng itu. Karena itu, Bali Heritage Trust dan komponen masyarakat yang peduli, memikirkan desain uang kepeng sesuai budaya Bali. Pilihannya, uang kepeng panca-aksara dan padma. “Padma melambangkan <em>dewata nawa sanga</em>,” ujar Sukma Swacita.</p>
<p>Selain untuk melestarikan budaya Bali, uang kepeng itu bisa digunakan untuk pengganti uang kepeng lama dalam upacara keagamaan. Karena itu, bahan bakunya harus mengandung <em>panca-datu</em> (lima kekuatan hidup yang dipengaruhi kekuatan <em>panca-dewata</em>), yaitu besi, perak, tembaga, emas, perunggu dan kuningan. Besi adalah kekuatan Dewa Wisnu, berwarna hitam dan berada di utara; perak adalah kekuatan Dewa Iswara, berwarna putih dan berada di timur; tembaga adalah kekuatan Dewa Brahma, berwarna merah dan berada di selatan; emas adalah kekuatan Dewa Mahadewa, berwarna kuning dan berada di barat; perunggu dan kuningan adalah kekuatan Dewa Siwa, berwarna-warni dan berada di tengah. “<em>Panca-datu</em> adalah syarat mutlak dalam upacara karena memenuhi kelima unsur arah mata angin,” katanya.</p>
<p>UD KamasanBali dipilih untuk memroduksi uang kepeng tersebut yang kemudian disosialisasikan kepada 1.417 <em>bendesa adat</em> di Pura Puncak Mangu tahun 2004. “Saya tertarik menggeluti usaha ini karena memiliki nilai filosofi yang tinggi,” ujar pria kelahiran Klungkung, 28 November 1957 itu.</p>
<p>Selain itu, menjalankan usaha ini sama halnya dengan menjaga lingkungan. “Sebagian bahan yang kami gunakan berasal dari barang bekas seperti pegangan pintu, keran, dinamo sepeda, velg sepeda motor atau mobil yang sudah tidak terpakai,” ungkapnya. Beberapa pengepul barang bekas menjadi rekanannya. Bahan pembuatan uang kepeng itu terdiri atas 25% tembaga, 50% kuningan, 15% timah, 9% alumunium, serta 1% emas, perak dan besi,” kata peraih penghargaan Logam Terbaik dalam Pameran Produk Budaya Nusantara di Jakarta, Juli 2007 itu. Berbekal teknologi, ia melebur semua bahan dan mengolahnya kembali. Dalam sekali produksi, KamasanBali bisa menghasilkan 3.000 – 5.000 uang kepeng sehari. Sebagian besar tenaga kerja yang dipekerjakannya berasal dari masyarakat kurang mampu, putus sekolah, yang dididik secara serius.</p>
<p>Kebutuhan uang kepeng untuk upacara di Bali menurutnya sangat tinggi. Yang ia ketahui, saat upacara besar di Pura Kentel Gumi, uang kepeng yang dipakai bisa mencapai 100 ribu keping. Tahun lalu, uang kepeng sebagai bahan <em>yadnya </em>yang dijualnya menembus angka 1 juta keping. Per keping, dijual Rp 700. “Harga itu tidak pernah naik sejak kami memroduksi uang kepeng, tahun 2004,” kata penerima penghargaan Paramakarya dari Departemen Tenaga Kerja RI tahun 2007 berkat produktivitas dan kualitas yang baik ini.</p>
<p><strong>Suvenir dan Aksesori</strong></p>
<p>Tak cukup sampai di situ, suami Ni Made Sukanti ini melakukan inovasi. Ia membuat suvenir dan aksesori dari uang kepeng. “Uang kepeng kalau belum diupacarai, hanya aksesori biasa. Karena itu, dengan kreativitas saya mengembangkan uang kepeng menjadi berbagai macam produk,” ujarnya. Anyaman uang kepeng, begitu ia menyebutnya. Beberapa bentuk bangunan atau barang yang langka dibentuknya seperti <em>lumbung arta, gedong arta, bale gading, pabuan</em>. Berbagai ragam patung seperti patung Siwa, patung Ganesha, patung Dewi Kwam In, patung penari Tamulilingan juga dibuatnya. Begitu halnya dengan perangkat upacara seperti <em>plangkiran, daksina, ider-ider, cilli, tamiyang, sampian, </em>atau<em> lamak</em>. Selain itu, KamasanBali juga membuat aksesori seperti anting-anting, liontin, gelang, dan cincin. “Kami juga membuat uang kepeng wayang sebagai upaya pengembangan usaha,” ujar I Gede Andika Prayatna Sukma, S.E., anak tunggal Sukma Swacita dan Sukanti. “Kami memilih jenis wayang klasik Kamasan sebagai desainnya,” imbuh Sukma Swacita. Ada 18 macam jenis karakter wayang yang dibuatnya antara lain Arjuna, Kresna, Panca Pandawa, Malen/Semar, Sangut, dan Dewi Durga. Ia juga melestarikan <em>caket </em>(pembelah buah pinang) dengan motif kuda, singa, atau ayam.</p>
<p>Sebagian masyarakat Hindu di Jawa Barat, Lampung, Gorontalo, NTB, Jakarta dan Manado menjadi pelanggan KamasanBali. Selain itu, Sukma Swacita juga menerima pesanan dari Singapura, Thailand, Prancis, Swedia, dan Belanda. “Sebagian ada yang memberi desain pada kami, sebagian membeli yang sudah ada,” ujarnya. Harga jual produknya bervariasi. Misalnya, <em>pabuan</em> dijual Rp 1 juta, <em>lumbung arta</em> dijual Rp 3,5 juta per buah.</p>
<p>Industri binaan Bank BPD Bali ini pun kerap mengikuti pameran. Salah satunya, pameran di Pesta Kesenian Bali (PKB). Tahun ini merupakan tahun kelima keikutsertaan UD KamasanBali dalam PKB. “Respons masyarakat sangat positif. Saat pameran, yang kami tekankan adalah promosi, tidak melulu penjualan. Apalagi, kebutuhan uang kepeng untuk kepentingan upacara selalu ada kapan saja,” katanya.</p>
<p>Tahun 2007, UD KamasanBali mencetak rekor Muri dengan membuat uang kepeng terbesar. Diameternya 77 cm, tebal 1,5 cm, dengan berat 50 kg. Uang kepeng terbesar itu setara dengan 11.335 uang kepeng biasa atau 67.567 uang kepeng koci/jepun. “Pembuatannya dikerjakannya enam orang,” kata Andika. Upaya pelestarian budaya Bali ini juga mendapat apresiasi dari Presiden RI yang memberikan penghargaan Upakarti Jasa Pelestarian tahun 2008 di Jakarta. “Kami akan terus berkreativitas dan berinovasi,” kata Sukma Swacita. &#8211; <em>rat</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ratnahidayati.com/2009/07/kamasanbali-hasilkan-3-000-5-000-kepeng-sehari-sekali-upacara-bisa-pakai-100-ribu-keping/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tanpa Kreativitas, tak Mungkin Ada Produksi</title>
		<link>http://ratnahidayati.com/2009/07/tanpa-kreativitas-tak-mungkin-ada-produksi/</link>
		<comments>http://ratnahidayati.com/2009/07/tanpa-kreativitas-tak-mungkin-ada-produksi/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 13 Jul 2009 07:17:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ratna</dc:creator>
				<category><![CDATA[Umum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://erhanana.wordpress.com/?p=302</guid>
		<description><![CDATA[PENCULIKAN Shinta oleh Rahwana, si raksasa bermuka sepuluh, di Hutan Dandaka membuat Rama meminta bantuan Hanoman untuk mencarinya. Dalam perjalanannya, saudara Subali dan Sugriwa itu mendapat kabar, jika Shinta ditawan di Kerajaan Alengka. “Aku akan menyelamatkanmu,” kata Hanoman kepada Shinta &#8230; <a href="http://ratnahidayati.com/2009/07/tanpa-kreativitas-tak-mungkin-ada-produksi/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>PENCULIKAN Shinta oleh Rahwana, si raksasa bermuka sepuluh, di Hutan Dandaka membuat Rama meminta bantuan Hanoman untuk mencarinya. Dalam perjalanannya, saudara Subali dan Sugriwa itu mendapat kabar, jika Shinta ditawan di Kerajaan Alengka. “Aku akan menyelamatkanmu,” kata Hanoman kepada Shinta ketika bertemu. Tetapi, Shinta menolak. Shinta berharap Rama yang menyelamatkannya. Hanoman pun berpamitan. Sebelum meninggalkan Alengka, ia memporakporandakan Taman Asoka di Kerajaan Alengka dan membunuh tentara Rahwana. Epos Ramayana ini berakhir dengan pertempuran besar yang dimenangkan Rama.<span id="more-302"></span></p>
<p>Kisah heroik Hanoman itu menarik minat mahasiswa jurusan animasi dan digital sinema New Media  College yang mengangkatnya menjadi sebuah film animasi berjudul “Hanoman, The Movie”. Serbuan film kartun dari luar negeri yang ditayangkan di televisi dan menjadi tontonan utama anak-anak Indonesia membuat mereka prihatin. Karena berbeda budaya, film kartun dari luar negeri belum tentu cocok dengan budaya Indonesia. Karena itu, mahasiswa yang tergabung dalam Bali Motion Studio tertantang untuk melahirkan karya dengan mengangkat muatan lokal. “Selama ini, tayangan televisi telah mengambil ruang anak-anak. Mereka menonton yang disuguhkan, terlepas itu cocok atau tidak buat mereka. Di sisi lain, anak-anak memerlukan pelajaran budi pekerti tanpa merasa digurui. Karena itu, kami tertarik memproduksi film animasi dengan muatan budaya lokal,” ujar Drs. Pica Kusuma Turker, mahasiswa New Media  College yang juga seorang guru.</p>
<p>“Selain itu, pembuatan film animasi ini juga menjadi sebuah upaya agar film animasi Indonesia bisa menjadi tuan rumah di negeri sendiri, bukan malah didominir oleh film animasi dari luar negeri,” susul W. Joniartha Siada, S.T., Ketua Jurusan Komputer Animasi dan Digital Sinema New Media College. Selama ini, orang selalu berkiblat ke Jepang atau Amerika Serikat dalam hal produksi film animasi. “Banyak orang berpikir, hanya Jepang dan Amerika Serikat yang jago membuat film animasi karena tayangan kartun di stasiun televisi Indonesia kebanyakan dari dua negara itu,” ungkap Joni, panggilan karib lelaki kelahiran Ubud, 12 Juni 1979 itu.</p>
<p>Ketika penggunaan komputer dalam pembuatan film animasi belum berkembang seperti sekarang, orang Bali sudah sering mendapat pesanan pembuatan gambar kartun dari Jepang. Di Jakarta, ada studio animasi yang kualitasnya sekelas dengan Hollywood. Mereka sering mendapat pesanan dari luar negeri untuk membuat berbagai film animasi dan gem. Pihak pemesan tinggal memberi merek dagang pada buatan karya anak Indonesia itu. “Honor mereka juga selangit, bisa Rp 2 miliar untuk pembuatan karakter Disney tiga dimensi,” ungkap Joni.</p>
<p>Media juga berperan besar terhadap perkembangan film animasi Indonesia. “Produk lokal cenderung susah diterima karena dinilai lebih mahal dibandingkan produk luar negeri. Pengelola stasiun televisi lebih memilih film kartun luar negeri yang lama karena harganya lebih murah,” kata Joni lagi. Kondisi itu makin memperkuat paradigma bahwa film animasi hanya bisa dibuat di luar negeri. Kesan lain yang muncul di benak masyarakat, membuat animasi itu sulit.</p>
<p>“Membuat film animasi itu memang gampang-gampang susah. Tetapi, kesulitan yang utama masih masalah perangkat keras,” kata Verdila Sintya Devy, mahasiswa New Media  College dan Wakil Ketua Bali Motion Studio. Pembuatan animasi menjadi gampang, asalkan kita memiliki kreativitas. “Tanpa kreativitas, tak mungkin ada produksi,” ujar Joni. Agar bisa maju, juga diperlukan inovasi. Terbukti, ketika Bali Motion Studio membuat pelatihan membuat animasi, dalam dua hari peserta mampu membuat karya sendiri.</p>
<p>“Kami terus berupaya menciptakan peluang agar animasi bisa menjadi bagian dalam kehidupan masyarakat,” ujar Pica yang juga Ketua Bali Motion Studio. Misi mereka, membawa nilai-nilai perdamaian dari Bali dan nilai-nilai universal yang diangkat dalam karya-karya mereka. Guru-guru di Bali banyak yang antusias belajar animasi. “Dengan belajar animasi, guru bisa memperkenalkan teknologi dan budaya pada anak yang bisa diterapkan dalam kehidupan mereka sehari-hari. Cara mengajarnya pun tak perlu konvensional lagi,” kata lelaki kelahiran 7 Oktober 1963 itu. Dengan mengenalkan dunia animasi pada anak-anak, mereka bisa juga diminta sebagai penilai. “Karena konsumennya anak-anak, kita bisa mencari tahu keinginan anak-anak terhadap teknologi dan memadukannya dengan kebutuhan mereka terhadap nilai-nilai budi pekerti sehingga menjadi tayangan yang menarik,” papar Pica.</p>
<p>“Banyak hal yang bisa dilahirkan dengan animasi,” kata Joni. Situs Bali Motion Studio menjadi salah satu sarana memamerkan animasi buatan anggotanya. Selain film, animasi juga dikembangkan dalam format CD interaktif atau materi iklan. Karya-karya itu diharapkan dapat menginspirasi pengunjung. “Untuk mengembangkan film animasi Indonesia, yang diperlukan sekarang hanya keterbukaan media agar mengutamakan produksi lokal dalam tayangan mereka,” kata Joni. Dengan begitu, peluang film animasi Indonesia menjadi tuan rumah di negeri sendiri, kian besar. – <em>rat</em></p>
<p><em>Media muat: Koran Tokoh, Minggu 12 Juli 2009<br />
</em></p>
<p><em> </em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ratnahidayati.com/2009/07/tanpa-kreativitas-tak-mungkin-ada-produksi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ibarat Dijajah Kompeni, Kontrak Kerja Cenderung Rugikan Karyawan</title>
		<link>http://ratnahidayati.com/2009/07/ibarat-dijajah-kompeni-kontrak-kerja-cenderung-rugikan-karyawan/</link>
		<comments>http://ratnahidayati.com/2009/07/ibarat-dijajah-kompeni-kontrak-kerja-cenderung-rugikan-karyawan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 13 Jul 2009 07:15:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ratna</dc:creator>
				<category><![CDATA[Umum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://erhanana.wordpress.com/?p=300</guid>
		<description><![CDATA[SEJAK 2001 s.d. 2008, Ayu bekerja di tiga perusahaan outsourcing (alih daya) secara bergantian yang mempekerjakannya di bidang perbankan. Pertama kali bekerja, ia ditempatkan di bank swasta nasional sebagai tenaga pemasaran. Pendapatannya dihitung berdasarkan rekening baru yang dibuka nasabah. Paling &#8230; <a href="http://ratnahidayati.com/2009/07/ibarat-dijajah-kompeni-kontrak-kerja-cenderung-rugikan-karyawan/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>SEJAK 2001 s.d. 2008, Ayu bekerja di tiga perusahaan <em>outsourcing</em> (alih daya) secara bergantian yang mempekerjakannya di bidang perbankan.</p>
<p>Pertama kali bekerja, ia ditempatkan di bank swasta nasional sebagai tenaga pemasaran. Pendapatannya dihitung berdasarkan rekening baru yang dibuka nasabah. Paling rendah, per rekening dihitung Rp 5.000. Kalau mencapai target 21 rekening, mendapat tambahan uang transportasi Rp 100 ribu. Jika dapat 41 rekening, paling banyak total uang didapat Rp 1,1 juta. Ia tidak mendapat jaminan kesehatan, asuransi kecelakaan, atau jaminan pensiun.<span id="more-300"></span></p>
<p>Ayu hanya bertahan enam bulan di perusahaan alih daya tersebut. Dia kemudian diterima di perusahaan alih daya lainnya, masih sebagai tenaga pemasaran di bank. Di perusahaan ini, dia mendapat gaji pokok Rp 300 ribu per bulan dan komisi Rp 10 ribu per nasabah yang disetujui permohonan kreditnya.</p>
<p>Tiap bulan, pemasar ditarget jumlah nasabah yang disetujui permohonan kreditnya. Ada tiga kriteria, merah, kuning, hijau. Merah berarti tidak memenuhi target, kuning memenuhi target, hijau melewati target. Pada kriteria kuning dan hijau, pemasar mendapat insentif. Gaji pokok pada tingkat hijau Rp 600 ribu. “Kalau tiga bulan berturut-turut tidak mencapai target, pemasar harus mengundurkan diri tanpa kompensasi apa pun,” ujarnya.</p>
<p>Perusahaan alih daya itu tidak memberikan jaminan minimal Jamsostek kepada pegawainya. Waktu Ayu kecelakaan saat bertugas, ia harus merogoh kocek sendiri untuk biaya rumah sakit. Begitu pula saat ia harus opname di rumah sakit karena terserang demam berdarah. “Pemilik perusahaan bahkan tak memberi santunan secara pribadi, misalnya,” ungkapnya.</p>
<p>Gaji yang di bawah ketentuan pemerintah itu masih pula dikenakan pajak penghasilan 10%. “Padahal, seharusnya tidak kena pajak karena di bawah ketentuan penghasilan kena pajak,” imbuhnya. Tak lama, Ayu dipindahkan ke bagian administrasi dengan gaji Rp 450 ribu/bulan, tanpa tambahan uang lain-lain.</p>
<p>Beberapa bulan kemudian, Ayu diminta pindah bagian oleh pihak bank. Dalam kontrak kerja, ia bertugas sebagai operator. Ini kali ketiga ia bekerja di perusahaan alih daya yang berbeda.</p>
<p>Di perusahaan ini, Ayu digaji Rp 800 ribu/bulan. Ia mendapat uang lembur dan asuransi kesehatan. Memasuki bulan ketujuh, gajinya dinaikkan menjadi Rp 900 ribu. Meski di kontrak kerja disebut sebagai operator, ia diberi tugas bermacam-macam, mulai dari mengurus telepon keluar/masuk, mengurus surat-surat keluar/masuk, menjadi kurir, mendokumentasikan berkas, dll. “Antara perjanjian kerja dengan praktiknya jauh berbeda,” katanya.</p>
<p>Ayu kemudian pindah menjadi penyambut tamu perusahaan. Gajinya dinaikkan menjadi Rp 1,1 juta dan statusnya adalah pegawai tetap perusahaan alih daya tersebut. Selain gaji, ia mendapat fasilitas pinjaman maksimal lima kali gaji, tunjangan kesehatan dan uang lembur. Tetapi, lagi-lagi, rincian pekerjaan yang dilakukan jauh berbeda dengan tugas yang tertera dalam surat perjanjian.</p>
<p>Selama dua tahun ia tak mengalami kenaikan gaji. Ia tak tahu harus mengadu pada siapa. Di Denpasar, tak ada perwakilan perusahaan alih daya yang menaunginya. Ketika ia tanyakan ke kantor pusatnya di Jakarta, jawaban pimpinannya, tak ada permintaan dari pengguna jasa. “Padahal dalam kontrak kerja, jika terjadi sesuatu pada tenaga kerja, harus mengadu kepada perusahaan alih daya. Dijawab seperti itu, saya merasa tidak ada kejelasan siapa yang bertanggung jawab atas diri saya,” tuturnya.</p>
<p>Urusan pekerjaan, dengan gaji yang jauh lebih rendah dibandingkan staf internal bank, Ayu mendapat limpahan pekerjaan dari staf lain. “Mungkin karena pegawai alih daya, jadi bisa diperlakukan seenaknya dan terkesan lebih rendah dibanding pegawai internal meski secara personal, hubungan kami baik-baik saja,” ujarnya.</p>
<p>Bekerja dalam kondisi itu, membuat Ayu ingin menjadi staf internal. “Gaji mereka jauh lebih tinggi, mereka dapat penghargaan yang layak, dan tingkat kesejahteraan yang jauh lebih baik,” katanya. Tetapi, peluang itu tertutup. Karena itu, Ayu memutuskan berhenti bekerja. Kebetulan, ia diterima sebagai karyawan di sebuah bank swasta lainnya. “Bekerja di perusahaan alih daya itu tak ada kepastian, termasuk kepastian jenjang karir,” katanya.</p>
<p>Kontrak kerja juga cenderung merugikan karyawan. Seorang temannya yang kini bekerja di sebuah perusahaan alih daya, dikenakan pasal perjanjian kerja yang merugikan, yaitu jika karyawan memutuskan kontrak kerja, maka harus mengganti uang jasa yang dibayarkan dihitung dari sisa bulan yang ditinggalkannya. “Misalnya, dia kontrak kerja setahun. Baru tiga bulan, berhenti bekerja. Gaji selama sembilan bulan yang tersisa dari kontrak kerja harus dibayar oleh tenaga kerja itu kepada perusahaan. Kalau gajinya Rp 1 juta/bulan, berarti dia harus mengganti Rp 9 juga. Ini kan merugikan,” katanya serius. Ayu mengibaratkan, bekerja di perusahaan alih daya itu ibarat dijajah kompeni.</p>
<p>Di kantornya yang sekarang, Ayu bisa bernapas lega. Sebagai tenaga pemasaran, ia digaji Rp 3 juta/bulan walau ia baru tujuh bulan bekerja. Selain itu, dia mendapat tunjangan kesehatan, tunjangan hari raya dua kali gaji, tunjangan pakaian, insentif bulanan, bonus tahunan, dan pinjaman sebanyak 30 kali gaji bruto jika sudah memasuki masa kerja dua tahun. Tiap enam bulan, ada penilaian yang menentukan jenjang karirnya dan memengaruhi pendapatannya. Insentif bulanan yang didapat pun bervariatif. Tertinggi, Ayu mendapat insentif Rp 10 juta. Dibanding temannya, jumlah itu masih kecil. Perusahaannya juga memberi penghargaan bagi karyawan berprestasi. Selain mendapat bonus, karyawan berprestasi juga bisa menikmati liburan ke luar negeri. “Tingkat pendapatan yang lebih baik, adanya penghargaan dari perusahaan bagi karyawan, dan lingkungan kerja yang nyaman merupakan faktor penting agar karyawan semangat bekerja,” katanya. – <strong><em>rat</em></strong></p>
<p><strong><em>Media muat: Koran Tokoh, Minggu 12 Juli 2009<br />
</em></strong></p>
<p><strong><em> </em></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ratnahidayati.com/2009/07/ibarat-dijajah-kompeni-kontrak-kerja-cenderung-rugikan-karyawan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kalau tak Kepepet, Jangan Dipecat: Divisi SDM harus Jadi Investment Centre</title>
		<link>http://ratnahidayati.com/2009/07/kalau-tak-kepepet-jangan-dipecat-divisi-sdm-harus-jadi-investment-centre/</link>
		<comments>http://ratnahidayati.com/2009/07/kalau-tak-kepepet-jangan-dipecat-divisi-sdm-harus-jadi-investment-centre/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 09 Jul 2009 13:32:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ratna</dc:creator>
				<category><![CDATA[Umum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://erhanana.wordpress.com/?p=297</guid>
		<description><![CDATA[STRATEGI perusahaan yang dibuat harus memenuhi kriteria fit dan strech. Strategi perusahaan disebut fit jika dibangun berdasarkan kekhasan perusahaan dan strech, bermakna, strategi perusahaan harus bersifat lentur. Demikian dijelaskan Ronny Mustamu, konsultan John Robert Powers di Sanur Paradise Plaza Hotel, &#8230; <a href="http://ratnahidayati.com/2009/07/kalau-tak-kepepet-jangan-dipecat-divisi-sdm-harus-jadi-investment-centre/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>STRATEGI perusahaan yang dibuat harus memenuhi kriteria <em>fit </em>dan <em>strech</em>. Strategi perusahaan disebut <em>fit</em> jika dibangun berdasarkan kekhasan perusahaan dan <em>strech</em>, bermakna, strategi perusahaan harus bersifat lentur. Demikian dijelaskan Ronny Mustamu, konsultan John Robert Powers di Sanur Paradise Plaza Hotel, Kamis (2/7) saat seminar “Human Resources Division as a Navigator”.<span id="more-297"></span></p>
<p>“Sebuah perusahaan tidak bisa meniru strategi perusahaan lain karena jika meniru harus total. Kalau meniru setengah-setengah, walau hanya yang bagus, hasilnya juga belum tentu bagus karena strategi itu ditentukan oleh nilai-nilai perusahaan,” ujar Ronny. Dalam pembuatan strategi perusahaan, ada prinsip, seharusnya strategi itu disusun oleh orang dalam perusahaan tersebut. Jika diperlukan orang luar, sifatnya hanya memfasilitasi agar hasilnya objektif. Strategi perusahaan yang tidak lentur akan membuat perusahaan mudah kolaps saat terjadi krisis. Karena itu, ketika membuat strategi, pembuat kebijakan harus mempertimbangkan kondisi internal dan eksternal dengan memprediksi hal yang bisa terjadi pada masa depan.</p>
<p>Dalam perusahaan, peran divisi sumber daya manusia (SDM) sangat penting. Divisi SDM yang sukses adalah divisi yang bisa menyiapkan sumber daya agar bisa mendukung keberhasilan perusahaan. Selama ini, peran divisi SDM dalam perusahaan ibarat dua sisi mata uang. “Saat divisi SDM diminta membantu seleksi untuk promosi karir para staf, keberadaan divisi itu terkesan positif. Tetapi sebaliknya, jika perusahaan melakukan perampingan karyawan, keberadaan divisi SDM menjadi musuh karyawan,” ujar Indayati Oetomo, <em>International Director</em> John Robert Powers.</p>
<p>Karena itu, divisi SDM harus mengubah paradigma tersebut. Divisi SDM bukan hanya mengurus personalia tetapi juga menjadi <em>investment centre </em>yang menghasilkan SDM yang berkualitas, baik dari sisi pengetahuan, keterampilan dan sikap. “Dengan begitu, divisi SDM bukan saja memiliki aset berupa investasi modal, infrastruktur, tetapi yang lebih penting adalah aset karyawan yang berkualitas,” ujar Indayati.</p>
<p>Buruknya, ada praktik yang bisa merugikan perusahaan. “Saya mencurigai ada praktik-praktik yang ditutupi mulai dari proses rekrutmen sampai promosi jabatan,” kata Ronny. Praktik itu, misalnya, menerima orang karena relasi, promosi jabatan karena rasa suka atau tidak suka. Membajak orang yang dianggap berkualitas di perusahaan pesaing memiliki nilai plus-minus. Kelemahannya, budaya kerja yang tidak cocok. “Di banyak tempat, jika ada dua perusahaan merger, persoalan yang muncul biasanya karena budaya kerja yang berbeda. Misalnya, model kerja di lembaga yang disiplin dan tidak disiplin tentu berbeda. Orang yang biasa bekerja di lembaga yang tidak disiplin lalu bekerja di lembaga yang disiplin, tentu bermasalah,” katanya.</p>
<p>Kunci sukses sebuah organisasi, menurut Indayati, adalah motivasi, produktivitas, dan penghargaan. Karyawan, siapa pun mereka, harus dipahami harapannya, kapabilitas dan kesenangan mereka, dipahami latar belakang mereka yang memengaruhi sikap dan moralnya. Divisi SDM harus mencoba memengaruhi sikap karyawan yang negatif menjadi positif. “Jangan sampai, kalau ada masalah, main pecat. Prinsip yang harus diterapkan, <em>hire and solver.</em> Kalau tidak kepepet, jangan pernah memecat karyawan,” ujar Indayati.</p>
<p>Pekerjaan akan berarti jika karyawan memersepsikan bahwa pekerjaannya sebagai sesuatu yang bernilai, bangga terhadap pekerjaannya dan merasa bahwa tujuan hidup bisa tercapai. “Kalau tidak, maka karyawan akan bersikap negatif,” lanjutnya.</p>
<p>Jika ada karyawan yang tidak tahu apa yang harus dikerjakan, komunikasikan; tidak tahu cara mengerjakan, adakan pelatihan; tidak ingin mengerjakan, beri motivasi; tahu apa yang harus dikerjakan, pemberdayaan; sudah mengerjakan dan melebihi standar, beri penghargaan.</p>
<p>Untuk menjadikan divisi SDM sebagai <em>investment centre</em>, cara kerja yang harus dilakukan oleh divisi itu adalah memberi kesempatan semua karyawan dalam perusahaan untuk berkembang dan tidak menempatkan karyawan hanya pada satu posisi jabatan sampai masa pensiun. “Tiap manusia itu pada dasarnya multitalenta,” kata Indayati meyakinkan. Ia pernah diminta mendidik staf <em>back office</em> di sebuah bank dan dipindah ke bagian pemasaran. Ternyata, sebagian dari mereka berprestasi. “Karena itu, biarkan karyawan itu berkembang,” ucapnya lagi.</p>
<p>Selain itu, untuk perekrutan, divisi SDM harus mempelajari karakteristik <em>line manager</em> yang membutuhkan, membantu meningkatkan keterampilan karyawan dengan mengadakan pelatihan yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing karyawan bukannya sesuai keinginan divisi SDM.</p>
<p>Divisi SDM itu ibarat dokter. Praktiknya, divisi itu harus bisa membuatkan rencana jenjang karier staf. Kalau perusahaan punya perencanaan SDM, pasti ada pengaderan. Divisi SDM harus bisa menjadi penasihat atasan. Dengan begitu, produktivitas perusahaan tinggi. Untuk memetakan kemampuan karyawan, bisa digunakan <em>job profiling. Job profiling </em>itu tak ada yang benar dan salah. Fungsinya untuk mengetahui kapabilitas karyawan agar jangan sampai, setelah dipekerjakan bertahun-tahun, perusahaan baru sadar sudah salah merekrut dan menempatkan orang di posisi tertentu. “Perusahaan bisa membuat semua pihak mengerti. Bawahan mengerti atasan, atasan mengerti bawahan,” ujar Ronny. &#8211; <strong><em>rat</em></strong></p>
<p><strong><em>Media muat: Koran Tokoh, Minggu 5 Juni 2009<br />
</em></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ratnahidayati.com/2009/07/kalau-tak-kepepet-jangan-dipecat-divisi-sdm-harus-jadi-investment-centre/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Perhiasan dari Fosil Mammoth: Disangka Marmut, Bule Terbelalak</title>
		<link>http://ratnahidayati.com/2009/07/perhiasan-dari-fosil-mammoth-disangka-marmut-bule-terbelalak/</link>
		<comments>http://ratnahidayati.com/2009/07/perhiasan-dari-fosil-mammoth-disangka-marmut-bule-terbelalak/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 09 Jul 2009 13:31:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ratna</dc:creator>
				<category><![CDATA[Umum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://erhanana.wordpress.com/?p=295</guid>
		<description><![CDATA[“KAMU mammoth terakhir di dunia ini,” ejek Sid pada Manny seraya tertawa. Manny tertunduk lesu. Diego, si singa sahabat mereka memarahi Sid. Ternyata, ucapan Sid terbantahkan. Di tengah perjalanan meninggalkan lembah untuk menghindari banjir, mereka bertemu Ellie, mammoth betina yang &#8230; <a href="http://ratnahidayati.com/2009/07/perhiasan-dari-fosil-mammoth-disangka-marmut-bule-terbelalak/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>“KAMU mammoth terakhir di dunia ini,” ejek Sid pada Manny seraya tertawa. Manny tertunduk lesu. Diego, si singa sahabat mereka memarahi Sid. Ternyata, ucapan Sid terbantahkan. Di tengah perjalanan meninggalkan lembah untuk menghindari banjir, mereka bertemu Ellie, mammoth betina yang berhasil membuat Manny jatuh cinta. Ellie pun akhirnya memilih hidup bersama Manny.<span id="more-295"></span></p>
<p>Kisah si mammoth Manny itu hanya ada di film <em>Ice Age 2: The Meltdown</em>. Sejatinya, binatang besar berbulu itu sudah punah ribuan tahun yang lalu. Tetapi, jika ingin memiliki sebagian sisa-sisa fosilnya yang sudah diolah, datangi saja stan Pegasus Gallery di Pesta Kesenian Bali (PKB) hingga 11 Juli nanti, di Ardha Candra.</p>
<p>“Banyak orang Indonesia yang tak tahu mammoth, mereka sangka marmut,” ujar Sang Nyoman Lingga, direktur sekaligus pemilik Pegasus Gallery. Tetapi kalau bule, mereka terbelalak. “Bagaimana bisa di Bali ada mammoth?” kata mereka terheran-heran. Tentu saja, di Bali bahkan di Indonesia tak ada <em>Mamutus Perginius</em> alias mammoth. Fosil binatang itu hanya ditemukan di Alaska, Siberia, dan Kanada. Nyoman Lingga pun mengekspor fosil gading mammoth untuk diolah menjadi berbagai macam aksesoris, perhiasan, pegangan keris, tongkat, sampai patung.</p>
<p>Membuat kerajinan tangan berbahan baku fosil mammoth sudah dilakoni Nyoman Lingga sejak 1996. Awalnya, lelaki kelahiran Tampaksiring, 6 Agustus 1971 ini membuat kerajinan berbahan baku tulang sapi dan tanduk rusa. Ketika bertemu dengan orang Rusia dan Swedia di galerinya, ia diajak barter dengan fosil gading mammoth seberat 1 kg. “Gading mammoth itu saya ukir berbentuk Ganesha. Ternyata, begitu dipajang di galeri, tak sampai sehari ukiran itu terjual,” tuturnya. Nyoman Lingga pun membeli 10 kg fosil gading mammoth. Pasar Amerika Serikat menjadi pasar utamanya. Nyoman Lingga pun akhirnya memutuskan menjadi pengimpor fosil mammoth.</p>
<p>“Karena mammoth sudah punah, jadi tidak dilindungi seperti gajah,” ujarnya. Mengimpor fosil mammoth pun tak seperti mengimpor tulang walrus, ada izin yang harus didapatkan dari negara asal ketika mengimpor fosil itu melalui The CITES (Convention International Trade of Endangered Species) Treaty.</p>
<p>Harga fosil mammoth bervariasi, tergantung kelas. Kian utuh, harganya makin mahal, bisa Rp 10 juta/kg. Yang pecah, bisa Rp 3 juta atau Rp 1 juta/kg. Pecah atau utuh, semuanya bisa dibentuk. Fosil seberat 1 kg bisa diolah menjadi sebuah patung. Fosil yang pecah bisa dibentuk menjadi patung kecil atau perhiasan berukuran 1 cm. Di galerinya di Tampaksiring, Nyoman Lingga memiliki fosil gading mammoth utuh, panjangnya 2 m. “Karena susah mendapatkan fosil yang utuh, gading itu pun tak dipecah. Gading utuh itu diukir selama 2 tahun,” ujar suami Sang Ayu Sumariani itu. Untuk mengukir fosil mammoth, Nyoman Lingga menyediakan peralatan dokter gigi agar bisa mendapatkan ukiran dengan detail yang halus. “Jenis mata bor gigi banyak macam, bisa membuat ukiran bulu-bulu yang halus. Kalau pakai alat pahat untuk kayu, tak akan bisa detail,” imbuh ayahnda Sang Ayu Shita Dewi Chandra ini.</p>
<p>Untuk mengukir fosil mammoth tersebut, Nyoman Lingga mengacu pada bentuk aslinya. Ia pun mengoleksi berbagai macam buku bergambar hewan-hewan. “Kecuali naga, semua bentuk merujuk pada bentuk asli. Ukiran itu harus realitas, bukan abstrak,” begitu alasannya.</p>
<p>Sejak lima tahun yang lalu, Nyoman Lingga menggarap pasar lokal. Pada PKB kali ini, merupakan keterlibatannya yang kedua kali. “Sambutan pasar lokal luar biasa,” ungkap lulusan Universitas Dwijendra ini. Para pejabat banyak yang menjadi langganannya. Pembelinya tersebar di seluruh Indonesia, mulai dari Aceh, Bangka Belitung, Jakarta, Kalimantan, sampai Sulawesi.</p>
<p>Mereka meminati perhiasan berbahan baku fosil mammoth itu, termasuk cinderamata dan pegangan keris. Pembeli bisa memesan bentuk yang diiinginkan. Di PKB, perhiasan berbentuk kupu-kupu, gajah, penyu, Candi Borobudur, kelinci, bunga mawar sangat digemari ibu-ibu. Selain unik, harganya pun terjangkau. Satu set perhiasan (anting, cincin, dan liontin) berbentuk mawar dijual Rp 500 ribu. Per biji, aksesoris itu dijual mulai Rp 100 ribu. “Kalau ditambah emas, harganya bisa Rp 1,7 juta sepasang, yang juga masih terjangkau masyarakat pecinta perhiasan,” katanya. Selain perhiasan, gagang keris juga diminati pengoleksi keris. “Pembeli dari Bali sangat antusias. Daya beli mereka tinggi,” susulnya. Sebagian dari mereka, datang ke galeri untuk membuat model sesuai keinginannya. “Ibu-ibu yang datang itu bisa menghabiskan waktu setengah hari untuk membuat model saja,” ungkapnya. – <strong><em>rat</em></strong></p>
<p><strong><em>Media muat: Koran Tokoh, Minggu 5 Juni 2009<br />
</em></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ratnahidayati.com/2009/07/perhiasan-dari-fosil-mammoth-disangka-marmut-bule-terbelalak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Belajar Membatik di Stan Semarang: Kesalahan bisa Jadi Motif asalkan Kreatif</title>
		<link>http://ratnahidayati.com/2009/07/belajar-membatik-di-stan-semarang-kesalahan-bisa-jadi-motif-asal-kreatif/</link>
		<comments>http://ratnahidayati.com/2009/07/belajar-membatik-di-stan-semarang-kesalahan-bisa-jadi-motif-asal-kreatif/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 09 Jul 2009 13:26:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ratna</dc:creator>
				<category><![CDATA[Umum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://erhanana.wordpress.com/?p=291</guid>
		<description><![CDATA[“CANTINGNYA jangan diisi terlalu penuh agar tidak tumpah,” ujar Deka Yuda Prasetyo di stan “Semarang” di arena pameran PKB di Ardha Candra Art Center. Deka lalu meminta Erika melapisi sketsa bunga di atas kain mori dengan malam. “Jika seluruh pinggiran &#8230; <a href="http://ratnahidayati.com/2009/07/belajar-membatik-di-stan-semarang-kesalahan-bisa-jadi-motif-asal-kreatif/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>“CANTINGNYA jangan diisi terlalu penuh agar tidak tumpah,” ujar Deka Yuda Prasetyo di stan “Semarang” di arena pameran PKB di Ardha Candra  Art Center. Deka lalu meminta Erika melapisi sketsa bunga di atas kain mori dengan malam. “Jika seluruh pinggiran bunga sudah dilapisi malam, Erika bisa mewarnai bunga itu sesuai warna yang diinginkan,” katanya menjelaskan. Dengan gembira, Erika menyelesaikan batik buatannya. Ia pun menerakan namanya di lembaran kain itu. Sebagai kenang-kenangan, batik buatannya itu boleh dibawa pulang.<span id="more-291"></span></p>
<p>Di stan yang diisi oleh Zie Batik dari Semarang ini, anak-anak bisa berlatih membuat batik. Biayanya hanya Rp 20 ribu per lembar kain berukuran 20 cm x 20 cm. Sejak dibuka, stan ini diminati anak-anak SD yang ingin belajar membuat batik. Menurut Deka, peminat belajar membatik ini sangat tinggi. Dalam sehari, ada 15 anak yang belajar membatik. Desain batik di atas kain mori sudah disediakan Zie Batik. Anak-anak yang belajar membatik tinggal memilih desain sesuai selera. Dengan adanya pelatihan ini, diharapkan anak-anak maupun orang tua tertarik melestarikan batik sebagai warisan budaya Nusantara. “Tetapi, dalam proses pembuatan batik di sini, kami hanya mengenalkan sampai di proses perwarnaan. Sejatinya, setelah selesai diwarna, batik <em>dilorot</em> &#8211; dicelup dan dibilas dengan air panas &#8211; untuk menghilangkan malam yang menempel di kain,” papar Deka.</p>
<p>Selain anak-anak, kaum ibu pun tak mau ketinggalan. Sebagian dari mereka ada yang minta dilatih secara khusus. “Selama PKB, kami melayani permintaan itu. Biaya kursus membatik buat ibu-ibu Rp 500 ribu, tiga kali pertemuan seminggu,” kata Zazila, pemilik Zie Batik. Selain pelatihan, ibu-ibu itu juga memesan peralatan dan bahan-bahan membuat batik seperti kompor, wajan, canting, kain, pewarna, dan malam.”Mereka ingin menekuni pembuatan batik,” kata Zazila.</p>
<p>Berbisnis batik memang menguntungkan. Dengan modal Rp 500 ribu, sebuah bahan yang bagus bisa dijual Rp 5 juta atau bahkan Rp 10 juta. Tetapi, itu bukan alasan utama Zazila menekuni usaha batik. Keluarganya tak memiliki darah pembatik. Walau bukan penduduk asli Semarang, Zazila memilih mengembangkan batik ibu kota Jawa Tengah itu.</p>
<p>Sempat bekerja di perusahaan garmen dan kemudian menganggur akibat krisis moneter, tahun 2004 Zazila mengikuti pelatihan membatik di Museum Tekstil di Jakarta. Saat itu, Zazila mulai jatuh cinta pada batik. “Saat pelatihan, saya bertanya. Apakah pelatihan ini sampai di sini saja? Kata instrukturnya, untuk belajar membuat batik secara serius, ada tahap tertinggi, yaitu pewarnaan alam. Saya pun akhirnya menindaklanjutinya dengan belajar pewarnaan alam di Yogyakarta,” kisah perempuan kelahiran Tegal, 21 April 1970 itu.</p>
<p>Saat pelatihan di Jakarta itu, ada hal yang membuatnya terenyuh. “Peserta pelatihan membatik itu kebanyakan orang asing. Dari sana, saya jadi tertarik ingin mengembangkan batik Indonesia,” ungkapnya. Di sisi lain, di Semarang yang menjadi tempat tinggalnya kini, ia menemukan sebuah Kampung Batik namun tak ada pembatiknya. “Kampung Batik itu ada sejak tahun 1900-an. Tetapi, saat saya ke sana, tak ada pembatik samasekali,” katanya. Selain ada kampung batik, Semarang juga memiliki Gedung Gabungan Koperasi Batik Indonesia, sebagai saksi bisu bahwa di kota itu pernah ada usaha mengembangkan batik Semarang yang akhirnya tenggelam.</p>
<p>Sisa-sisa sejarah tentang batik lawasan ala Semarang kini bisa ditemukan di museum di Los   Angeles, Belanda dan Museum Batik Danar Hadi di Solo. Selain itu, tak ada yang tahu ciri khas batik lawasan Semarang. Melihat kondisi itu, Zazila pun tergerak mengembangkan batik Semarang. “Yang pertama kali diperlukan adalah pembatiknya. Karena itu, saya mulai mengenalkan pembuatan batik ke sekolah-sekolah di Semarang,” kisah istri Marheno Jayanto ini.</p>
<p>Ternyata, sambutan murid-murid dan guru-guru sangat antusias. Tiga sekolah; Al Azhar, Karangturi, dan Semesta langsung menjadikan kegiatan membatik sebagai kegiatan ekstrakurikuler mereka. Selain itu, istri Wali Kota Semarang ketika itu, Ny. Sinto Sukami pun menyambut positif. Melalui Dewan Kerajinan Nasional Daerah Semarang, mereka mengadakan pelatihan membuat batik di sekitar Kampung Batik. Tujuannya, menghidupkan kembali Kampung Batik. Agar bisa membuat selembar kain batik, ibu-ibu itu dilatih selama sebulan.</p>
<p>Di pengujung tahun 2005, usai melatih ibu-ibu di sekitar Kampung Batik itu, muncul masalah. Di Semarang, tak ada yang memproduksi batik. Akhirnya, Zazila memutuskan untuk memproduksi batik khas Semarang dengan mempekerjakan ibu-ibu yang telah dilatih tersebut. Masalah lain muncul, tak ada yang tahu secara pasti desain khas batik ala Semarang. “Kami putuskan membuat batik dengan motif ikon Kota Semarang seperti Lawang Sewu, Tugu Muda, asem dengan warna-warna natural,” kata peraih Juara II Gugus Kendali Mutu dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan Semarang, Juni 2009 ini.</p>
<p>Pelatihan membuat batik kian diminati masyarakat ketika Indonesia diserbu batik dari Cina dan Malaysia mematenkan batik. Tiap hari, Zazila membuka pelatihan membuat batik di rumahnya, termasuk pelatihan pewarnaan alam. “Proses membuat batik itu tak terlalu sulit. Kesalahan pun bisa menjadi motif kalau kita kreatif,” katanya.</p>
<p>Kini, Kampung Batik di Semarang hidup kembali. Zie Batik dikenal pelopor dalam pengembangan batik Semarang. Zazila kerap diminta mewakili Semarang untuk mengikuti pameran di kota lain seperti PKB saat ini. “Saya membuat motif bertema khusus tiap ada pameran,” ungkap Zazila. Pada pameran kali ini, ia membuat batik dengan tema legenda seperti motif Ramayana, penari gambang Semarang, dan Srikandi. Tiap motif hanya dibuatkan satu lembar dengan harga Rp 4,5 juta per lembar. – <strong><em>rat</em></strong></p>
<p><strong><em> </em></strong></p>
<p><strong><em>Media muat: Koran Tokoh, Minggu 5 Juni 2009<br />
</em></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ratnahidayati.com/2009/07/belajar-membatik-di-stan-semarang-kesalahan-bisa-jadi-motif-asal-kreatif/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Berburu Miniatur di PKB: Harga Becak lebih Murah Dibandingkan di Yogyakarta</title>
		<link>http://ratnahidayati.com/2009/07/berburu-miniatur-di-pkb-harga-becak-lebih-murah-dibandingkan-di-yogyakarta/</link>
		<comments>http://ratnahidayati.com/2009/07/berburu-miniatur-di-pkb-harga-becak-lebih-murah-dibandingkan-di-yogyakarta/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 09 Jul 2009 13:25:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ratna</dc:creator>
				<category><![CDATA[Umum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://erhanana.wordpress.com/2009/07/09/berburu-miniatur-di-pkb-harga-becak-lebih-murah-dibandingkan-di-yogyakarta/</guid>
		<description><![CDATA[DI LAPAK dagangan di sepanjang jalan Malioboro Yogyakarta, pengunjung dengan mudah mendapatkan berbagai macam miniatur sepeda gayung, dokar, atau becak. Miniatur serupa juga pasti ditawarkan oleh pedagang acung atau pedagang kaki lima di kawasan Candi Borobudur Magelang serta toko kerajinan &#8230; <a href="http://ratnahidayati.com/2009/07/berburu-miniatur-di-pkb-harga-becak-lebih-murah-dibandingkan-di-yogyakarta/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>DI LAPAK dagangan di sepanjang jalan Malioboro Yogyakarta, pengunjung dengan mudah mendapatkan berbagai macam miniatur sepeda gayung, dokar, atau becak. Miniatur serupa juga pasti ditawarkan oleh pedagang acung atau pedagang kaki lima di kawasan Candi Borobudur Magelang serta toko kerajinan yang tersebar di Yogyakarta.<span id="more-290"></span></p>
<p>Harganya bervariasi dan tidak tergantung tempat. Di pusat oleh-oleh khas Yogyakarta “Mirota” di Maliboro misalnya, becak ala Yogyakarta ukuran tanggung dijual seharga Rp 260 ribu per buah. Produk yang sama, dijual pedagang acung di kawasan Candi Borobudur seharga Rp 250 ribu. Bedanya, di Toko Mirota pembeli tak bisa menawar. Harga permintaan terendah untuk sebuah becak ukuran tanggung di pedagang kaki lima di kawasan Candi Borobudur, Rp 175 ribu, tak disetujui pedagang. Mereka menjual becak itu paling murah Rp 225 ribu.</p>
<p>Bagi penggemar miniatur, tak perlu jauh-jauh ke Yogyakarta untuk membeli becak. Selama Pesta Kesenian Bali (PKB) digelar, pengrajin asal Kota Pelajar yang memproduksi bermacam-macam miniatur mengadakan pameran. Seperti yang dipamerkan Maryanto dari JP Kuningan; ada sepeda antik, sepeda balap, sepeda Mandarin, becak, gerobak, dokar, bajaj sampai miniatur sepeda motor Harley Davidson. Menariknya, harganya jauh lebih murah dibandingkan membeli produk sejenis di Yogyakarta. Miniatur becak ukuran kecil dijual Rp 125 ribu, becak ukuran sedang dijual Rp 150 ribu, dan becak ukuran besar lengkap dengan pengayuhnya dijual seharga Rp 250 ribu. Harga itu pun masih bisa ditawar. “Harga beli di sini bisa lebih murah karena pengunjung membeli langsung dari pengerajin,” katanya.</p>
<p>Maryanto memiliki misi khusus dalam pembuatan berbagai macam alat transportasi yang ada di Indonesia itu. “Harapan saya, anak-cucu kita dapat mengetahui jenis kendaraan yang pernah ada, yang sebagian sudah langka atau bahkan tidak ada lagi,” ujarnya. Maryanto juga memproduksi miniatur lain yang unik seperti kursi roda yang bisa dilipat seperti aslinya. Selain memproduksi bermacam-macam miniatur, Maryanto juga membuat kerajinan dari alumunium seperti kepala Buddha, patung Buddha tidur, topeng Panji, topeng penari Bali dsb.</p>
<p>Miniatur yang paling diminati pembeli adalah sepeda gayung, becak, dan dokar. “Pembeli miniatur di Bali masih minim. Pengunjung yang datang lebih banyak yang melihat-lihat saja. Pangsa pasar di Bali, rasanya lebih pas kalau pemilik galeri karena produk kami diminati turis mancanegara,” katanya. Pangsa pasar miniatur di Indonesia paling tinggi adalah Jakarta dan Medan.</p>
<p>Produk buatan Maryanto berupa cor-coran logam hasil daur ulang. Tiap satu komponen dibuatkan satu cetakan. Misalnya, sepeda memiliki 13 komponen yang berbeda. Masing-masing komponen memiliki satu cetakan dan bisa membuat 50 komponen yang sama sekali buat. Komponen tersebut dirangkai lalu dilapisi tembaga dan diwarna agar terkesan antik. Dalam seminggu, Maryanto bisa membuat 50 sepeda. Omzet perusahaannya sebulan rata-rata Rp 20 juta. “Kami terkendala dalam pemasaran,” ungkapnya. Selama ini, produk JP Kuningan yang dijual ke pembeli mancanegara selalu melalui eksportir. Maryanto bangga bisa memperkenalkan produknya di Bali meski target pasar belum ditemui. “Kalau ada pameran produk ekspor seperti di Jakarta, pembeli sudah jelas. Pengunjung yang datang memang benar-benar untuk berbisnis,” katanya.</p>
<p><strong>Perak Kotagede</strong></p>
<p>Bersama Pram Batik Natural, Ayuning Silver, dan Ciandari Craft, Maryanto mengisi pameran sampai 1 Juli di stan “Yogyakarta”. Pengerajin yang dikirim oleh Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan Pertanian Kota Yogyakarta, digilir. Tiap 10 hari, ada empat pengerajin di satu stan. “Di Yogyakarta ada ratusan pengusaha kecil. Karena itu, kami harus bergiliran kalau mau ikut pameran. Saya menunggu satu tahun agar bisa ikut pameran ke luar daerah yang dibiayai pemerintah,” ujar Kresi Tejo Bawono dari Ayuning Silver.</p>
<p>Berbeda dengan kerajinan perak di Bali, kerajinan perak ala Kotagede Yogyakarta dibuat dengan bahan baku tembaga yang dilapisi perak. Produk itulah yang dijual Tejo Bawono. “Kalau bahan bakunya khusus perak, harga jual jadi lebih tinggi, bisa-bisa tidak terjangkau calon pembeli,” begitu alasannya.</p>
<p>Sama seperti Maryanto, Tejo Bawono juga membuat berbagai macam miniatur, seperti sepeda dan dokar. Ia juga membuat miniatur bangunan yang menjadi ciri sebuah kota atau negara seperti Candi Borobudur, Menara Eiffel, Tugu Monas, dll. “Kalau ada yang memesan, kami juga bisa membuat miniatur pura dengan meru tumpang sebelas,” katanya. Tejo Bawono tak berani membuat ikon sebuah kota kalau tak ada yang memesan secara khusus, kecuali ikon di Yogyakarta, tempatnya berproduksi. “Biasanya, ikon kota atau negara itu diperlukan oleh penjual/konsumen di kota/negara bersangkutan sebagai suvenir khas daerah. Kalau saya jual di Yogyakarta, bisa tak diminati,” katanya berargumen. Selama pameran di PKB, Tejo Bawono menjual satu miniatur Menara Eiffel. “Orang yang membeli, pernah ke Paris,” tuturnya. Tejo Bawono juga memproduksi miniatur seperangkat gamelan. Miniatur buatannya dikemas dalam kotak kaca dan disiapkan tutup dari tripleks berbalut kain batik. “Kami kemas seperti itu agar miniatur ini bisa menjadi hadiah yang siap diserahkan kepada penerima,” ucap Tejo Bawono yang menekuni usaha turun-temurun keluarganya itu.</p>
<p>Selain itu, ia juga membuat berbagai macam perhiasan dan aksesoris dengan bentuk yang unik seperti bros berbentuk kipas dan penjepit dasi berbentuk keris lengkap dengan sarungnya. “Penjepit dasi itu seperti keris mini. Kerisnya bisa dikeluarkan dari sarungnya,” ujar Tejo Bawono.</p>
<p>Kreasi yang diciptakan Tejo Bawono umumnya berupa miniatur benda lain. Berbeda dengan miniatur buatan Maryanto, miniatur buatan Tejo Bawono diproduksi secara manual, tanpa mesin. Semuanya buatan tangan. Proses pembuatannya pun berbeda dengan kerajinan perak di Bali. “Perak Kotagede dirangkai satu persatu. Kalau sudah ahli, hanya perlu waktu dua hari untuk membuat satu karya,” katanya. Jika dibandingkan dengan proses pembuatannya yang begitu rumit dan perlu ketelitian tingkat tinggi, harga sebuah penjepit dasi Rp 65 ribu, menjadi setara. “Tetapi tidak semua pembeli bisa menghargai proses pembuatan itu. Tempat perhiasan yang kami jual Rp 20 ribu per buah, ditawar jadi Rp 5.000. Ya, tentu tak bisa kami berikan,” ujarnya. &#8211; <strong><em>rat</em></strong></p>
<p><strong><em>Media muat: Koran Tokoh, Minggu 28 Juni 2009<br />
</em></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ratnahidayati.com/2009/07/berburu-miniatur-di-pkb-harga-becak-lebih-murah-dibandingkan-di-yogyakarta/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Memahami Polis</title>
		<link>http://ratnahidayati.com/2009/06/memahami-polis/</link>
		<comments>http://ratnahidayati.com/2009/06/memahami-polis/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 01 Jun 2009 22:53:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ratna</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Umum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://erhanana.wordpress.com/2009/06/02/memahami-polis/</guid>
		<description><![CDATA[Kejadian ini dialami saudara ipar sepupuku. Saat suaminya mengikuti program asuransi pendidikan “Beasiswa Berencana” di Asuransi Jiwa Bersama (AJB) Bumiputera 1912, ia keberatan. “Uang kita tak cukup untuk membayar asuransi,” katanya. Si suami tak peduli. Biaya pendidikan dari tahun ke &#8230; <a href="http://ratnahidayati.com/2009/06/memahami-polis/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;">Kejadian ini dialami saudara ipar sepupuku. Saat suaminya mengikuti program asuransi pendidikan “Beasiswa Berencana” di Asuransi Jiwa Bersama (AJB) Bumiputera 1912, ia keberatan. “Uang kita tak cukup untuk membayar asuransi,” katanya. Si suami tak peduli. Biaya pendidikan dari tahun ke tahun bukannya kian murah tetapi malah makin mahal. Ia lebih rela menyisihkan hampir Rp 200 ribu per bulan daripada uang itu digunakan untuk membeli makanan cepat saji tiap minggu yang pasti harganya lebih mahal dan tak ada sisanya.<span id="more-289"></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;">Tak sampai berjalan setahun, sang suami meninggal. Beruntung, ia sempat memaksakan kehendak mengikuti program asuransi. Karena setelah kematiannya, si istri menerima uang santunan dari AJB Bumiputera 1912 untuk keberlangsungan pendidikan anaknya, sesuai harapan sang ayah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;">Tetangganya terkejut. “Ternyata, perusahaan asuransi itu <em>nggak</em> bohong ya? Meski belum ikut asuransi setahun dan mati, sudah dapat santunan,” ujar salah satu tetangga. Karena peristiwa itu, beberapa orang langsung mengikuti program asuransi pendidikan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;">Semudah itu mendapatkan santunan? Ya, tentu saja. Asal, ada beberapa hal yang harus dipenuhi. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:14pt;">Membaca Polis</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;">Usai menerima polis, banyak nasabah asuransi yang tak membaca polis mereka. Padahal, itu adalah hal yang penting. Agen asuransi biasanya hanya menjelaskan mengenai manfaat asuransi yang akan didapatkan nasabah dan hampir semuanya tak pernah menjelaskan mengenai hal-hal yang dapat membuat pertanggungan menjadi batal, berakhir, atau prosedur klaim. Ironisnya, nasabah pun tak peduli dengan polis yang sudah diterimanya. Begitu diberikan, langsung disimpan. Syukur-syukur kalau menyimpan di tempat khusus menyimpan dokumen. Jika tidak, kelak dia akan kebingungan mencari polis itu ditempatkan. Kalau sudah menerima polis, dianggap semuanya sudah beres. Padahal, itu baru langkah awal dari sebuah program yang berjalan beberapa tahun. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;">Memahami polis, itu yang aku lakukan tiap kali menerima polis dari program asuransi yang aku ikuti. Bahasa polis menggunakan bahasa hukum, yang kerap kali harus kutanyakan ulang pada agen asuransi. Karena menurutku, agen asuransi adalah seorang konsultan. Dia bukan penjual asuransi semata yang dengan mudah meninggalkan nasabahnya sesudah melakukan transaksi penjualan. Jika ada agen asuransi yang bersikap “hit and run” seperti itu, sebaiknya dihindari. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;">Perusahaan asuransi memiliki ketentuan yang berbeda-beda meski pada umumnya ada kemiripan. Karena itu, selalu membaca polis yang didapat menjadi hal yang sangat penting. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;">Pertama, mengenai surat permintaan asuransi jiwa. Tiap calon nasabah yang akan mengikuti program asuransi selalu diminta mengisi formulir dan menandatangani surat permintaan asuransi jiwa untuk dikirim kembali kepada perusahaan asuransi. Surat permintaan asuransi itulah yang menjadi dasar perjanjian asuransi antara pemegang polis dan perusahaan asuransi. Karena itu, bersikap hati-hati dan jujur saat mengisi formulir sangat penting. Jawab semua pertanyaan apa adanya. Kalau pernah sakit tertentu, sebut saja. Jangan ditutup-tutupi. Ada beberapa agen asuransi yang menyarankan untuk berbohong tentang riwayat kesehatan calon pemegang polis, jangan dituruti. Mereka tahu itu salah tetapi demi pencapaian target pribadi, mereka membenarkan tindakan itu. Risikonya, jika keterangan yang dinyatakan dalam surat permintaan asuransi atau laporan pemeriksaan kesehatan tidak benar atau palsu, sedangkan perjanjian asuransi telah berjalan, maka perjanjian asuransi tidak berlaku lagi. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;">Kedua, mengenai pembayaran premi. Sesungguhnya, premi asuransi sifatnya tahunan, tetapi dengan persetujuan perusahaan asuransi, premi bisa dibayar dengan diangsur; bulanan, per triwulan, atau per semester. Premi ini harus dibayar di muka. Beberapa perusahaan menetapkan cara yang berbeda-beda dalam cara pembayaran. Ada yang menyiapkan juru tagih ke rumah-rumah, sistem transfer ke nomor rekening perusahaan asuransi, debet rekening tabungan atau kartu kredit. Semuanya punya kekurangan dan kelebihan masing-masing.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;">Pakai sistem pembayaran apa pun, yang pasti uang premi harus diterima perusahaan asuransi sesuai perjanjian yang disepakati di awal kontrak. Kalau menggunakan juru tagih, pastikan menerima kuitansi pembayaran dari agen asuransi. Hal itu sebagai dasar klaim jika terjadi masalah di kemudian hari, terutama kalau agen asuransi tidak menyetorkan uang tersebut ke perusahaannya. Hal lain, jika agen asuransi tidak datang menagih, kita harus tetap membayar premi tersebut dengan mendatangi perusahaan asuransi. Begitu juga kalau menggunakan sistem transfer bank. Bukti transfer melalui bank juga harus kita simpan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;">Jika pembayaran menggunakan sistem debet rekening tabungan, pastikan ada dana yang mencukupi untuk membayar asuransi dalam rekening itu. Kalau memang rekening tersebut itu khusus untuk debet asuransi, berikan kelebihan dana sebagai saldo minimal yang harus diendapkan dan biaya administrasi rekening. Bila saldo tabungan terlalu pas dengan biaya asuransi, bisa-bisa rekening tabungan tidak terdebet. Begitu juga kalau menggunakan sistem pembayaran dengan kartu kredit. Pastikan ada sisa kredit yang bisa didebet. Selain itu, selalu informasikan kepada perusahaan asuransi jika berganti nomor dan penerbit kartu kredit agar mereka bisa memindahkan proses pendebetan ke kartu kredit yang baru.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;">Ketiga, mengenai masa leluasa. Masa leluasa diberikan kepada nasabah asuransi yang belum membayar kewajibannya. Tiap perusahaan menetapkan masa leluasa yang berbeda-beda. AJB Bumiputera 1912 misalnya, memberikan masa leluasa 30 hari untuk membayar premi lanjutan terhitung mulai tanggal jatuh temponya atau satu bulan kalender jika mulai asuransinya tanggal satu. Jika melewati rentang waktu tersebut, secara otomatis polis menjadi batal. Risikonya, jika tertanggung meninggal dunia setelah masa leluasa, santunan tidak akan dibayarkan. Tetapi, jika tertanggung meninggal pada masa leluasa, semua tunggakan premi beserta bunganya akan dikurangkan dari santunan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;">Keempat, mengenai pemulihan polis. Polis yang batal atau polis bebas premi dapat dipulihkan kembali. Tiap perusahaan menentukan masa pemulihan polis yang berbeda-beda. Ada yang dua tahun, tiga tahun, atau lima tahun sejak polis menjadi batal. Biasanya diperlukan pemeriksaan kesehatan atas kesehatan tertanggung dengan biaya pemeriksaan menjadi beban pemegang polis sepenuhnya. Perusahaan asuransi juga berhak menolak pemulihan polis berdasarkan penilaian kesehatan tertanggung dan pertimbangan perusahaan. Untuk memulihkan polis, harus disertai dengan pelunasan semua tunggakan premi berikut bunganya dan lain-lain utang yang berhubungan dengan polis. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;">Kelima, menghentikan pembayaran premi. Pemegang polis dapat menghentikan pembayaran premi yang dilakukannya jika tidak dapat atau tidak ingin melanjutkan perjanjian asuransi yang telah disepakati dengan mengajukan permintaan secara tertulis. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;">Jika pemegang polis melakukan premi secara terus-menerus sebelum pembayaran premi dihentikan atas kehendaknya, maka polis memiliki nilai tunai yang saat dan besarnya nilai tunai ditentukan oleh perusahaan asuransi berdasarkan perhitungan aktuaria. Nilai tunai adalah sejumlah uang yang akan dibayarkan kepada pemegang polis jika perjanjian asuransinya dihentikan sebelum masa asuransinya berakhir. Perusahaan asuransi dapat menebus polisnya dengan ketentuan polis tersebut masih berlaku, dapat ditebus, dan memiliki nilai tunai. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;">Keenam, pinjaman polis. Polis yang telah memiliki nilai tunai dapat dijadikan jaminan pinjaman polis sesuai peraturan yang ditetapkan perusahaan asuransi. Pinjaman itu akan dikenakan bunga dan peminjam dikenakan bunga atas pinjaman serta berkewajiban membayar angsuran dan bunga pinjaman sesuai perjanjian. Jika pada suatu saat, sisa pinjaman polis dan bunganya sama dengan atau lebih besar daripada nilai tunai polis yang dijadikan jaminan, maka pada saat itu juga polis menjadi batal. Kalau pada saat pembayaran santunan atau nilai tunai terdapat sisa pinjaman polis, sisa pinjaman dan bunganya akan dikurangkan dari pembayaran tersebut. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;">Ketujuh, pembayaran santunan. Ada dua hal yang sangat penting dalam hal pembayaran santunan, yaitu ahli waris dan dokumen yang diperlukan untuk mengajukan permintaan santunan. Siapa pun yang disebut sebagai penerima santunan dan tertuang dalam polis, maka dialah yang berhak menerima santunan tersebut. Nama penerima santunan bisa diganti kapan saja jika diinginkan pemegang polis dengan mengajukan permintaan tertulis kepada perusahaan asuransi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;">Saat mengajukan permintaan santunan, ada beberapa dokumen yang harus dilengkapi oleh penerima santunan. Jika tertanggung masih hidup, faedah asuransi akan diterima olehnya dan biasanya hanya memerlukan polis asli dan identitas diri. Untuk klaim meninggal dunia, surat pengajuan permintaan santunan, polis asli/polis pengganti, kuitansi pembayaran premi terakhir yang sah, surat keterangan kematian dari pemerintah daerah setempat, surat keterangan kematian dari dokter/rumah sakit dalam hal tertanggung meninggal dunia dalam perawatan dokter/rumah sakit, surat keterangan dari kepolisian jika tertanggung meninggal dunia akibat kecelakaan, identitas diri (kartu keluarga dan tanda pengenal) serta dokumen lain jika diperlukan perusahaan asuransi. Untuk klaim rawat inap di rumah sakit, penerima santunan harus memberikan rincian biaya perawatan di rumah sakit, kuitansi asli/legalisir dari rumah sakit, fotokopi identitas diri, serta dokumen lain yang diperlukan perusahaan asuransi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;">Karena bukti pembayaran asuransi menjadi hal yang sangat menentukan dalam pengajuan santunan, kita harus rapi dalam pendokumentasian. Simpan kuitansi pembayaran asuransi terakhir. Jika menggunakan sistem pembayaran debet rekening tabungan, simpan buku tabungan tersebut. Begitu pula jika menggunakan sistem pembayaran debet rekening kartu kredit. Simpan lembar tagihan yang dikirim oleh penerbit kartu kredit Anda karena di sanalah tertera pendebetan untuk pembayaran asuransi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;">Perhatikan pula jangka waktu pengajuan permintaan santunan karena tiap perusahaan menetapkan jangka waktu yang beda-beda. Ada yang menetapkan maksimal 30 hari sejak kejadian, ada pula yang satu tahun sejak kejadian. Kecepatan perusahaan asuransi dalam proses pencairan santunan ditentukan juga oleh kelengkapan dokumen yang diperlukan. Karena itu, pastikan semua dokumen yang diperlukan dalam pengajuan santunan sudah dilengkapi agar santuan cepat cair.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:14pt;">Terbuka pada Keluarga</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;">Baguslah jika kita sudah mengikuti program asuransi. Bagus juga jika kita sudah memahami isi polis asuransi yang kita ikuti. Pertanyaannya kemudian, apakah keluarga kita mengetahui bahwa kita mengikuti program asuransi tersebut?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;">Menjadi kewajiban siapa pun peserta program asuransi jiwa untuk menjelaskan kepada keluarga dan ahli waris tentang program asuransi yang mereka ikuti. Karena bagaimana<span> </span>pun, merekalah yang akan mengurus permintaan santunan seandainya kita sebagai tertanggung meninggal dunia. Pengetahuan tentang program asuransi yang kita ikuti, termasuk prosedur pengajuan klaim harus pula diketahui oleh mereka. Program asuransi yang kita ikuti akan menjadi sia-sia jika tak diketahui oleh keluarga kita, terutama ahli waris.</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ratnahidayati.com/2009/06/memahami-polis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>“Jaminan Kepastian” di Tengah Ketidakpastian</title>
		<link>http://ratnahidayati.com/2009/05/%e2%80%9cjaminan-kepastian%e2%80%9d-di-tengah-ketidakpastian/</link>
		<comments>http://ratnahidayati.com/2009/05/%e2%80%9cjaminan-kepastian%e2%80%9d-di-tengah-ketidakpastian/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 31 May 2009 05:51:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ratna</dc:creator>
				<category><![CDATA[Umum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://erhanana.wordpress.com/?p=287</guid>
		<description><![CDATA[Sebulan sebelum kematiannya, aku bertemu dengannya. Pak Jagat, begitu aku memanggilnya. Dia adalah klienku saat aku bekerja di perusahaan asuransi di divisi bancassurance. Pertemuan kami kali itu, lagi-lagi untuk membicarakan program asuransi untuknya. Pagi itu ia menunjukkan selembar kertas catatannya. &#8230; <a href="http://ratnahidayati.com/2009/05/%e2%80%9cjaminan-kepastian%e2%80%9d-di-tengah-ketidakpastian/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;">Sebulan sebelum kematiannya, aku bertemu dengannya. Pak Jagat, begitu aku memanggilnya. Dia adalah klienku saat aku bekerja di perusahaan asuransi di divisi <em>bancassurance</em>. Pertemuan kami kali itu, lagi-lagi untuk membicarakan program asuransi untuknya.<span id="more-287"></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;">Pagi itu ia menunjukkan selembar kertas catatannya. Ada daftar asuransi yang diikutinya plus daftar rekening di bank yang dimilikinya. Seingatku, ada 10 polis asuransi dengan tertanggung dirinya. Ditunjukkannya pula polis-polis itu. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;">“Bagaimana dengan asuransi yang dulu Bapak ikuti melalui saya? Masih lancar kan pendebetannya?” tanyaku. Ketika mengikuti program <em>bancassurance</em> tersebut, ia menggunakan sistem debet rekening bank. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;">“Wah, itu yang saya lupakan. Sudah tiga bulan ini saya tidak mengisi dana ke rekening itu,” jawabnya. Segera saja, aku mengingatkannya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;">“Waktu itu, Bapak ikut program yang bayar Rp 200 ribu per bulan kan? Kalau tiga bulan, berarti Rp 600 ribu Pak. Genapkan Rp 1 juta agar bisa didebet lagi,” kataku. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;">“Iya, saya ingin ke bank tapi tidak sempat. Sibuk sekali,” kelitnya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;">“Saya percaya kalau Bapak sibuk. Tetapi, diupayakanlah Pak. Sebentar saja. Kalau Bapak tidak membayar, polis Bapak bisa dinonaktifkan. <em>Lapse</em>, istilahnya. Pada masa <em>lapse</em> itu, asuransi Bapak tidak berlaku lagi. Kalau terjadi, maaf, Bapak meninggal misalnya, uang pertanggungan Bapak tidak bisa dikeluarkan. Kan sayang Pak. Cuma Rp 600 ribu, demi uang pertanggungan yang jauh lebih besar,” kataku lagi, mengingatkannya. Dia manggut-manggut. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;">“Kalau asuransi Bapak yang lain, masih aktif juga tidak? Polis Bapak banyak sekali,” tanyaku.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;">“<em>Nggak</em> tahu. Beberapa agen asuransi tidak menghubungi saya lagi setelah itu,” jawabnya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;">Perbincangan itu menjadi perbincangan terakhirku dengannya. Kami tak sempat bertemu lagi setelah itu. Genap sebulan kemudian, aku membaca berita di koran. Pak Jagat meninggal. Duh, aku kaget. Apakah sebenarnya saat dia mencatat dengan rapi daftar asuransi dan rekening bank yang dimilikinya adalah sebuah persiapannya sebelum kematian? Dia tak pernah melakukan itu sebelumnya. Tetapi, ada satu hal yang kukhawatirkan, apakah dia sudah membayar asuransinya yang terputus itu? </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;">Kekhawatiranku menjadi kenyataan. Dia belum membayar beberapa asuransinya yang <em>lapse</em>. Aku menyesal karena tak memaksanya lagi setelah itu. Apalagi, ketika anaknya tak bisa mencairkan uang asuransi tersebut karena kelalaian bapaknya. Mereka sangat memerlukannya. Aku menyesal.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;">Kejadian itu kerap menjadi pengingatku. Dalam kehidupan, yang pasti adalah ketidakpastian. Kematian, sama halnya dengan kehidupan, adalah milik Tuhan. Tak pernah ada yang tahu. Yang pasti, semua orang pasti mati, entah kapan waktunya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;">Karena ketidakpastian itu, kita perlu membuat sebuah “jaminan kepastian”. Jaminan bagi orang terdekat, orang terkasih dalam hidup kita: keluarga kita. Ini bukan perkara nyawa kita dihargai dengan sekian rupiah dari uang pertanggungan asuransi yang kita miliki. Bukan itu. Nyawa kita tak pernah bisa dihargai dengan uang, berapa pun nilainya. Tetapi, di balik kematian itu, ada hal yang harus dihadapi keluarga kita, sepeninggal kita yaitu meneruskan hidup mereka tanpa kita.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;">Seandainya, kita – orang yang mati – ini adalah penopang hidup keluarga kita, apa yang terjadi dengan mereka setelah kita mati? Kita tak pernah tahu. Tetapi yang pasti, ada sesuatu yang hilang. Bukan saja diri kita namun juga penghasilan yang selama ini digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga. Kerap kali, ini menjadi masalah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:14pt;">Melimpahkan Risiko</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;">Sebagai manusia, kita memiliki dua kemungkinan: panjang usia atau pendek usia. Orang bisa meninggal pada usia muda atau saat lanjut usia. Keduanya memiliki risiko. Saat kita mati muda, terutama pada usia produktif, keluarga kita menanggung risiko atas tanggung jawab yang kita tinggalkan. Kalau kita memiliki anak, kita bertanggung jawab agar mereka bisa tumbuh dan berkembang secara optimal. Anak-anak kita perlu pendidikan yang maksimal agar bisa hidup lebih baik kelak. Keluarga kita membutuhkan kehidupan yang lebih baik, dengan atau tanpa diri kita. Bila kita panjang umur, kita memiliki risiko kesehatan yang tak menentu dan tak memiliki penghasilan pada usia lanjut. Umumnya, menjadi orang tua sama artinya menjadi tidak produktif. Pada saat yang sama, pengeluaran untuk kebutuhan sehari-hari harus terus bisa dipenuhi. Belum lagi ada kecenderungan kondisi kesehatan yang menurun pada usia senja, yang sudah pasti membutuhkan dana yang tidak sedikit.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;">Lalu, apa yang harus kita lakukan? Tentu saja, melimpahkan risiko itu pada pihak lain, yaitu perusahaan asuransi. Banyak risiko yang bisa kita limpahkan pada perusahaan asuransi agar kita atau keluarga kita hidup lebih baik.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;">Pertama, risiko atas kehilangan penghasilan ketika pencari nafkah dalam keluarga meninggal. Siapa pun, suami atau istri yang bekerja, memiliki kontribusi bagi kesejahteraan keluarganya. Jika salah satu sumber penghasilan itu tak ada lagi, besar atau kecil, pasti ada dampaknya bagi keluarga. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;">Kedua, risiko atas kondisi kesehatan yang tidak menentu. Bukan hanya saat tua, kondisi kesehatan orang muda masa kini pun kian tak menentu. Pola hidup yang kian tak sehat cenderung memunculkan penyakit degeneratif pada usia yang lebih dini. Atau, kondisi kesehatan yang memburuk akibat kecelakaan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;">Pelimpahan risiko atas kondisi kesehatan ini bisa berupa jaminan rawat inap di rumah sakit, jaminan biaya pengobatan, jaminan jika terjadi penyakit kritis, sampai jaminan jika tubuh kita mengalami cacat tetap secara total sehingga kita tak mampu bekerja seperti sebelumnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;">Biaya pengobatan saat ini sangat mahal. Meski penghasilan kita terbilang besar, tetapi jika kita tidak melimpahkan risiko itu pada pihak asuransi, uang tabungan kita bisa habis lebih cepat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;">Ketiga, risiko atas hidup di usia senja dan tidak produktif. Selain harus bersiap menghadapi kematian yang tidak menentu datangnya, kita juga perlu bersiap menghadapi hidup panjang umur. Risikonya, kita tak memiliki sumber pendapatan karena tak lagi bekerja. Tentu, kita tak bisa terlalu tergantung pada anak-anak kita karena kelak, mereka tentu memiliki keluarga yang juga membutuhkan biaya hidup yang tidak kecil. Kita memerlukan jaminan hidup nyaman pada usia senja, yang kita sebut dana pensiun. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;">Jika perusahaan kita telah memberi jaminan dana pensiun, itu bagus. Tetapi, jangan cepat berpuas hati. Dana pensiun dari perusahaan biasanya hanya beberapa persen dari pendapatan ketika kita sedang bekerja. Bisa 80%, 70%, atau bahkan 50%. Ini masalahnya. Jika kita sudah terbiasa mendapatkan dan menggunakan 100% penghasilan lalu berkurang menjadi 50% penghasilan, akan terjadi gap penghasilan dan pengeluaran yang besar. Padahal dari tahun ke tahun biaya hidup selalu meningkat. Kita akan menemui kendala. Itulah yang kita harus pikirkan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:14pt;">Sejak Dini</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;">Kalau begitu, mulai kapan sebaiknya kita melimpahkan risiko kepada pihak asuransi? Sejak dini. Makin cepat, makin baik. Kita tak tahu, kapan berbagai jenis risiko itu datang. Selain itu, kian muda usia kita, kian murah biaya asuransi yang harus kita keluarkan. Akan lebih baik misalnya, kalau sejak pertama kali bekerja, kita mengikuti program asuransi. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;">Ada</span><span style="font-size:14pt;"> berbagai alasan ketika orang tak melakukan itu di usia muda dan belum menikah; saya belum memiliki tanggungan keluarga, saya masih sehat, dsb. Jika itu pemikiran yang muncul, kita kembali pada konsep pelimpahan risiko: risiko bisa datang kapan saja, tak peduli tua atau muda. Malah, pada usia muda adalah masa terbaik mengikuti asuransi karena premi yang dibayar lebih kecil dibandingkan ketika mengikuti asuransi pada usia yang lebih tua. Saat muda dan belum menikah, kita punya peluang lebih besar untuk menyiapkan kebutuhan masa depan karena ketika sudah menikah dan punya anak, pengeluaran kita akan kian besar. Keuntungan lain, kita bisa memanfaatkan selisih premi yang dibayarkan untuk kepentingan lain kelak.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;">Anda tertarik mengikuti program asuransi tetapi dana yang dimiliki sangat terbatas? Sangat mudah. Pilihlah program asuransi yang paling murah preminya dan membeli berdasarkan prioritas. Sebenarnya, ada tiga hal mendasar yang harus kita miliki, yaitu jaminan ketika kita meninggal, jaminan atas kesehatan, dan dana pensiun. Dari ketiga jaminan itu, biaya asuransi kesehatan yang paling tinggi. Kalau tak memiliki dana yang cukup, prioritaskan dua jenis pelimpahan risiko yang lain. Kalau penghasilan kita kelak meningkat, pikirkan untuk melengkapi program yang sudah diambil.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:14pt;">Memilih Asuransi</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;">Perusahaan asuransi membuat berbagai macam program yang kadang sulit dimengerti calon konsumen. Agen asuransi yang baik akan bertindak sebagai konsultan keuangan calon pembeli, bukan sekadar memenuhi target pribadi semata. Mereka akan memberi nasihat, jenis asuransi terbaik untuk calon pembelinya disesuaikan kebutuhan dan kondisi keuangan nasabah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;">Jenis asuransi yang paling mendasar yang harus dimiliki adalah asuransi murni tanpa nilai investasi. Uang pertanggungan yang diberikan hanya akan keluar jika tertanggung dalam program itu meninggal dunia. Nilai uang pertanggungan besar dengan premi yang relatif kecil. Tahun 2000-an, Asuransi Jiwa Bersama (AJB) Bumiputera 1912 pernah meluncurkan program asuransi “Seumur Hidup Prima”. Masa asuransi, seumur hidup. Calon pembeli berusia 26 tahun cukup membayar premi Rp 526.000 per tahun selama 12 tahun dan akan diberi jaminan uang pertanggungan sebesar Rp 100 juta yang hanya bisa dicairkan jika tertanggung meninggal. Uang pertanggungan itu tentu bermanfaat bagi ahli waris saat tertanggung meninggal. Minimal, mereka bisa menutupi kebutuhan keluarga hingga jangka waktu tertentu. Saat ini, program tersebut telah digantikan dengan program lain yang sejenis. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:14pt;">Perubahan Perilaku</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;">Ada</span><span style="font-size:14pt;"> hal yang paling penting dalam perencanaan keuangan keluarga kita, yaitu perubahan perilaku. Jika sudah memiliki penghasilan, orang sering bersikap “spend first, save later”: belanja dulu, menabung kemudian. Banyak orang yang menabung kalau ada sisa penghasilan. Jika seperti itu, kita tak akan pernah memunyai sisa penghasilan yang bisa ditabung. Pasalnya, akan selalu ada pengeluaran yang harus kita biayai. Berbeda jika sebagian penghasilan sudah kita sisihkan sejak awal. Berapa pun uang yang tersisa, maka akan cukup untuk membiayai kehidupan sehari-hari. Dengan begitu, kita punya persiapan untuk masa depan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;">Bersikap “save first, spend later” berarti pula mengubah perilaku jangka pendek menjadi perilaku jangka panjang. Hasil survei konsultan pemasaran Frontier menyebutkan, 98% konsumen Indonesia berperilaku jangka pendek. Padahal, menurut T. Harv Ekker dalam bukunya “Millionare Mindset”, salah satu syarat agar orang bisa menjadi kaya adalah memunyai horizon jangka panjang. Tantangan musuh dari diri sendiri inilah yang harus kita tangkis agar hidup kita lebih sejahtera. Selain itu, selalu utamakan meningkatkan anggaran untuk tabungan masa depan ketika terjadi kenaikan pendapatan, bukan mengutamakan anggaran untuk hal-hal yang bersifat konsumtif.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;"> </span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ratnahidayati.com/2009/05/%e2%80%9cjaminan-kepastian%e2%80%9d-di-tengah-ketidakpastian/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tak Diizinkan Bertemu Ibu yang Terinfeksi HIV</title>
		<link>http://ratnahidayati.com/2009/05/tak-diizinkan-bertemu-ibu-yang-terinfeksi-hiv/</link>
		<comments>http://ratnahidayati.com/2009/05/tak-diizinkan-bertemu-ibu-yang-terinfeksi-hiv/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 23 May 2009 22:50:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ratna</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kesehatan]]></category>
		<category><![CDATA[Umum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://erhanana.wordpress.com/?p=281</guid>
		<description><![CDATA[Usianya kini baru tiga tahun. Jika Putu boleh meminta, ia tentu tak mau mendapat “warisan” Human Immunodeficiency Virus (HIV) dari ayahnya yang meninggal setahun lalu. Sebelum meninggal, Made, ayah Putu sakit-sakitan. Ia terserang TBC. Made tak memedulikannya karena tak punya &#8230; <a href="http://ratnahidayati.com/2009/05/tak-diizinkan-bertemu-ibu-yang-terinfeksi-hiv/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size:14pt;">Usianya kini baru tiga tahun. Jika Putu boleh meminta, ia tentu tak mau mendapat “warisan” <em>Human Immunodeficiency Virus</em> (HIV) dari ayahnya yang meninggal setahun lalu.<span id="more-281"></span></span></p>
<p><span style="font-size:14pt;">Sebelum meninggal, Made, ayah Putu sakit-sakitan. Ia terserang TBC. Made tak memedulikannya karena tak punya uang cukup untuk berobat. Jika ada sedikit uang, ia datang ke puskesmas. Suatu saat, oleh dokter yang memeriksanya, Made dirujuk ke RS Sanglah. Namun, Made menolak. Alasannya klasik, ia tak punya cukup uang. Akan lebih baik jika ia membiarkan penyakit itu berdiam di tubuhnya, berharap sembuh sendiri.</span></p>
<p><span style="font-size:14pt;">Dokter di puskesmas yang mengetahui kondisinya, berusaha mengajaknya ke rumah sakit. “Dokter itu datang ke rumah bersama tujuh orang lain. Ada perawat, ada dokter. Keluarga kami dikumpulkan. Ia mengatakan, ini penyakit yang membahayakan. Suamiku terpapar HIV/AIDS. Kami terkejut luar biasa,” ujar Kadek, istri Made.</span></p>
<p><span style="font-size:14pt;">Dua hari kemudian, Made meninggal. Sejak itu, Putu tak lagi bisa menikmati indahnya dunia kanak-kanak. Dunia yang bersahabat tercerabut dari hidup Putu dan Kadek, seketika. “Jika sebelumnya Putu disayang oleh keluarga suamiku, sekarang tidak lagi,” tutur Kadek. Meski tak mengetahui hasil tes darah Putu dan Kadek, keluarga mereka langsung berprasangka, keduanya pun telah terpapar HIV.</span></p>
<p><span style="font-size:14pt;">“Kami dikucilkan,” kata Kadek lesu. Saudara sepupu Putu tak lagi boleh berdekatan dengannya. Kalau Putu memegang mainannya, langsung disuruh ambil saja, tak perlu dikembalikan. Mereka juga tak boleh menggunakan piring atau gelas di rumah keluarga itu. “Kami disediakan air mineral dalam kemasan plastik sekali pakai,” ungkap Kadek.</span></p>
<p><span style="font-size:14pt;">Jika Putu dan Kadek ditawari makan dan menerimanya, tak akan ada anggota keluarga yang lain mau makan. Begitu pula saat mereka mandi. “Kami tak boleh memakai kamar mandi yang ada di rumah. Kalau ketahuan pakai kamar mandi di rumah, mereka segera membersihkan kamar mandi,” lanjutnya. Putu dan Kadek harus rela berjalan kaki sejauh 1,5 Km untuk mencapai pancuran agar bisa mandi dengan nyaman.</span></p>
<p><span style="font-size:14pt;">Putu pun harus rela ketika kakek dan neneknya tak lagi mau menyentuhnya. “Semua orang takut tertular. Kami seperti orang asing di keluarga sendiri,” keluh Kadek. Mereka diminta keluar dari rumah itu, dikembalikan ke orangtua Kadek. “Anak saya belum <em>mapamit</em> di pura keluarga suami. Walau tak ada warisan, sebagai anak laki-laki, dia masih punya hak di sana,” imbuhnya.</span></p>
<p><span style="font-size:14pt;">Kembali ke rumah orangtua Kadek tak berarti menyelesaikan masalah begitu saja. “Keluarga besar orangtua tahu kondisi saya. Mereka pun mulai bersikap beda. Mereka tak lagi berkunjung jika tak ada upacara yang harus dilakukan di rumah. Kalau datang, mereka tak lagi mau minum kopi atau teh yang disuguhkan. Keakraban itu menghilang begitu saja,” kisah Kadek.</span></p>
<p><strong><span style="font-size:14pt;">Satu Keluarga</span></strong><span style="font-size:14pt;"></span></p>
<p><span style="font-size:14pt;">Pengalaman Putu dan Kadek di Tabanan terjadi juga di Klungkung. Putri, aktivis yang peduli terhadap permasalahan HIV/AIDS mendampingi kliennya yang mengalami kejadian seperti itu. “Ada satu keluarga dengan tiga anak. Dalam keluarga itu, hanya satu anak yang tidak terpapar HIV. Saat ayahnya meninggal, mereka diminta tidak bertempat tinggal di rumah itu lagi. Oleh mertuanya, dua anak yang positif terinfeksi HIV disuruh ikut ibunya yang juga terinfeksi HIV. Satu anak yang sehat, tidak boleh berkumpul dengan ibu dan saudara-saudaranya. Ia bahkan tak diizinkan bertemu ibu karena ibunya terinfeksi HIV,” ungkap Putri.</span></p>
<p><span style="font-size:14pt;">Menurut Putri, banyak orang yang takut tertular karena minim informasi mengenai HIV/AIDS. Orang dengan HIV/AIDS (ODHA) yang didampinginya, rata-rata tidak terbuka kepada keluarga. “Paling-paling mereka membuka status pada suami atau istri. Kalau membuka status lalu dibantu masyarakat, bagus. Tetapi kalau yang terjadi sebaliknya, apa jadinya? Itu sebabnya, mereka lebih memilih tertutup,” ungkap Putri.</span></p>
<p><span style="font-size:14pt;">Risiko membuka status terpapar HIV memunyai dua risiko, dilabel negatif atau dibantu. “Masalahnya, kadang orang mengerti tentang HIV/AIDS tapi belum tentu berempati,” lanjutnya. Beberapa bulan yang lalu, ada ODHA meninggal. Mayatnya tak diurus keluarga. Ada juga ODHA yang meninggal tak boleh diaben karena masyarakat takut asapnya mengandung virus HIV. Padahal, sejatinya HIV hanya bisa ditularkan dari satu orang ke orang lain melalui pertukaran cairan tubuh seperti darah, air mani, cairan vagina, dan air susu ibu.</span></p>
<p><span style="font-size:14pt;">“Yang kita perlukan sekarang adalah menumbuhkan empati. Kalau sekarang kasus HIV/AIDS dialami orang lain, bisa jadi besok terjadi pada diri kita sendiri atau keluarga kita,” kata Putri. Di Bali, prevalensi kasus AIDS per 100.000 penduduk per 31 Desember 2008 mencapai 33.75, berada di peringkat kedua setelah Papua. Kasus HIV/AIDS yang ditemukan di Bali hingga 28 Februari 2009 tercatat 2.666 kejadian. 1.284 kasus terjadi di Denpasar, 520 kasus terjadi di Buleleng, dan 477 kasus terjadi di Badung. Di seluruh kabupaten/kota di Bali telah ditemukan kasus HIV/AIDS. Dari seluruh kejadian, 63% kasus HIV/AIDS dari kelompok risiko heteroseksual dan 26% dari pengguna jarum suntik (narkoba). 49% dari mereka berasal dari golongan usia 20-29 tahun; 35% dari golongan usia 30-39 tahun, dan 9% dari golongan usia 40-49 tahun. “Ironisnya, 2% dari mereka adalah remaja berusia 15-19 tahun dan hampir 3% adalah anak-anak berusia hingga 14 tahun,” kata Mercya Soetanto, <em>Media Relations</em> Komisi Penanggulangan AIDS Provinsi Bali. “Saya yakin kasus HIV/AIDS akan kian meningkat. Tiap bulan, saya selalu menemui enam ODHA baru. Itu baru saya saja, belum pendamping yang lain,” susul Putri. Buruknya, mereka baru ketahuan terpapar HIV/AIDS setelah dalam kondisi sakit-sakitan seperti TBC, diare kronis, penurunan berat badan drastis, atau jamur di mulut. “Orang Bali bilang, mereka terkena <em>black magic</em>, padahal terpapar HIV/AIDS. Sialnya, pemerintah daerah sepertinya kurang peduli terhadap permasalahan ini,” keluh Putri.</span></p>
<p><strong><span style="font-size:14pt;">Belajar dari Buleleng</span></strong><span style="font-size:14pt;"></span></p>
<p><span style="font-size:14pt;">Masyarakat di Pemuteran, Gerokgak, Buleleng bisa menjadi contoh pemelajaran adanya kasus HIV/AIDS. Ni Nyoman Renti dan Putu Suastika adalah salah satu pasutri yang terpapar HIV/AIDS di daerah itu. “Kalau saya tidak sakit-sakitan, saya mungkin tidak tahu kalau terkena HIV/AIDS,” ujar Renti.</span></p>
<p><span style="font-size:14pt;">Sejak dinyatakan HIV positif, keluarga dan tetangganya resah. Apalagi, ada juga saudara sepupunya yang meninggal dan disebut-sebut karena AIDS. Kabarnya, dia terpapar HIV. “Kami tidak tahu HIV/AIDS itu seperti apa, kami jadi takut,” ujar Nyoman Tika, kemenakan Renti. Ketakutan itu kian parah ketika ternyata, suami Renti, Suastika juga terpapar HIV.</span></p>
<p><span style="font-size:14pt;">Kondisi seperti itu membuat keluarga dan tetangga membuat jarak dengan mereka. Sampai akhirnya, ada sosialisasi mengenai HIV/AIDS yang berulang kali dilakukan Yayasan Citra Usada Indonesia di sana. “Kalau tidak ada sosialisasi, kami tak akan pernah tahu tentang HIV/AIDS,” kata Tika. Tika kini tahu, HIV tidak menular melalui interaksi dalam pergaulan sehari-hari meskipun berdekatan dengan orang yang sudah terinfeksi HIV karena HIV bukan virus yang menular seperti virus flu atau kuman penyakit kulit. Renti dan Suastika pun bisa hidup bermasyarakat seperti ketika belum terinfeksi HIV. “Keinginan saya sekarang, jangan sampai ada orang lain lagi yang tertular HIV seperti saya. Biarlah, cukup saya saja yang terinfeksi,” harap Renti. – <strong><em>rat</em></strong></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;"> </span></p>
<p>Media muat: Koran Tokoh, Minggu 24 Mei 2009</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ratnahidayati.com/2009/05/tak-diizinkan-bertemu-ibu-yang-terinfeksi-hiv/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

