Lion Air, Apakah Aku Beruntung?

Siapa tak kenal Lion Air? Perusahaan yang dioperasikan sejak Juni 2000 ini sekarang mengoperasikan pesawat Boeing 737-900ER, Boeing 737-800NG, Boeing 747-400, dan pesawat Airbus A330-300. Mengutip laman Lion Air, sebanyak 71 unit pesawat Boeing 737-900ER didesain kapasitas 215 kursi masing-masing pesawat, 32 unit pesawat Boeing 737-800NG konfigurasi kelas tunggal dengan kapasitas penumpang sebanyak 189 orang, dua unit pesawat Boeing 747-400 dengan kapasitas 506 penumpang serta tiga unit pesawat Airbus A330-300 dengan 440 orang.

Tahun 2005-2013, aku adalah orang yang anti-Lion Air. Dalam kurun waktu itu, hanya tiga maskapai yang mau aku tumpangi, yaitu Garuda Indonesia, Citilink, dan Air Asia. Jika perusahaan meminta aku pergi dengan pesawat murah, pilihan aku hanya Citilink atau Air Asia. Hanya sekali aku naik Lion Air, setelah itu aku selalu menolak jika ditawari pakai Lion Air.

Tapi, situasi berubah sejak 2014. Aku tinggal di Surabaya dan Jakarta (dengan persentase lebih lama di Jakarta), sementara suami tinggal di Denpasar, anak tinggal di Jombang. Tiap Jumat, aku akan bergiliran mengunjungi anak dan suami. Jika minggu pertama ke Jombang, berarti minggu berikutnya ke Denpasar. Begitu terus. Kalau dari Jombang tidak masalah. Tinggal naik bus dari Bungurasih, lalu ke Jombang. Kalau ke Denpasar, pesawat jadi hal wajib agar waktu bersama suami bisa optimal. Karena rutin tiap dua atau tiga minggu, pesawat berbiaya murah wajib pula jadi pilihan. Awalnya, aku pakai Air Asia. Tapi karena waktu ketibaan di Surabaya sekitar pukul 08.30 dan aku pasti terlambat tiba di kantor, akhirnya aku putuskan ganti penerbangan pertama dari Denpasar ke Surabaya dengan Lion Air.

Resah dan gelisah ketika pertama kali naik Lion Air. Amankah? Itu ketakutan utama. Aku banyak berdoa. Pas mendarat dengan selamat di Juanda, aku bahagia. Ternyata Lion Air sama saja dengan pesawat lain. Ibarat launching produk baru, aku waktu itu lagi mencoba sampel. Ndalalah kok tidak ada masalah. Sejak saat itu, kembali dari Denpasar pasti naik Lion Air. Lalu aku mulai berani mencoba Lion Air untuk rute lain.

Keluhan terbanyak yang dialami penumpang Lion Air adalah masalah penundaan keberangkatan. Salah seorang temanku bilang, tobat naik Lion Air, delapan kali pakai Lion Air, delapan kali kena delay. Mending pakai Batik Air saja, nggak mahal-mahal banget, full service pula. Kalau sudah begitu, rasanya aku ingin bertanya sama Lion Air, apakah aku beruntung? Sejak 2014 hingga sekarang, frekuensiku menggunakan pesawat dalam sebulan 8-12 kali. Tidak semuanya pakai Lion Air, karena aku juga pakai maskapai lain, mulai dari Wings Air, Air Asia, Citilink, Sriwijaya, Batik Air, dan Garuda Indonesia. Tapi paling sering tetap saja Lion Air. Menariknya, hampir tiga tahun ini, seingatku hanya kena delay Lion Air tiga kali dan itu pun tidak lebih dari 30 menit. Jika ada pengunduran keberangkatan, biasanya aku mendapat SMS sehari sebelumnya. Teman-teman bilang, pasti keberangkatan pertama, jadi nggak delay. Tidak juga. Aku bisa berangkat pagi, siang, sore, atau malam. Kalau begitu, kamu satu dari sejuta orang yang beruntung nggak pernah kena delay Lion Air. Hahaha. Lion Air, apakah benar aku beruntung?

 

Lion Air Berbenah

Ada hal lain yang kucermati dari Lion Air. Ya, Lion Air berbenah terus-menerus. Aku pikir-pikir, mengapa Lion Air diberi nama Lion Air? Karena aku yakin, sang pemilik bervisi menjadikan Lion Air menjadi raja di udara. Kalau mau jadi raja di udara, tentu tak bisa terus dinilai buruk. Faktanya, mulai Juni tahun lalu, larangan terbang di Uni Eropa bagi Lion Air dicabut. Itu berarti, kinerja Lion Air membaik. Tingkat keselamatan pun dinilai meningkat.

Dengan jaringan rute hingga Singapura, Malaysia, Thailand, Vietnam, Saudi Arabia serta pesawat carter ke Cina dan Hong Kong, jelas terlihat kalau Lion Air head to head dengan Air Asia di kawasan Asia Tenggara. Karena itu, aku suka membandingkan fasilitas Air Asia dengan Lion Air. Sebagai ilustrasi, rute Surabaya-Jakarta 26 Januari 2016. Harga tiket termurah Air Asia pukul 07.40 Rp 480 ribu, Lion Air pukul 07.30 Rp 476 ribu di agen Traveloka. Fasilitas yang didapat, Air Asia bagasi 15 kg, Lion Air bagasi 20 kg. Dari harga memang hanya beda Rp 4 ribu, tetapi berat bagasi selisih 5 kg sangat menentukan bagi yang membawa bagasi. Keunggulan Air Asia, penumpang bisa membeli bagasi tambahan 48 jam sebelum penerbangan jika diperlukan dengan harga yang murah ketimbang bayar kelebihan bagasi di bandara hingga 30 kg.

Kelemahan Air Asia dibandingkan Lion Air, jika bepergian satu rombongan, nomor kursi bisa terpisah-pisah. Jika ingin duduk berdekatan, harus bayar khusus (aku cek, sekarang pembelian tiket harga hemat di website Air Asia hanya mencakup bagasi kabin. Untuk mendapatkan bagasi 20 kg, harus membayar value pack, sekitar 7 dolar AS, termasuk sandwich serta pemilihan kursi standar). Sementara Lion Air, kursi bisa satu deret tanpa bayar biaya kursi lagi. Jika ingin memilih tempat duduk, cukup lakukan web check in. Lagi-lagi tanpa biaya tambahan. Aku berandai-andai, jika Lion Air bisa meniru penjualan bagasi ekstra ala Air Asia, itu jadi tambahan keunggulan. Harusnya, penjualan tiket Lion bisa lebih naik setelah itu, apalagi dengan rute Lion yang terbilang banyak.

Jika secara produk dan layanan dapat ditingkatkan, tantangan terbesar berikutnya adalah menciptakan kultur organisasi yang kompetitif. Budaya organisasi yang kompetitif di Air Asia begitu terasa hingga di level customer service. Pelayanan yang baik bisa dirasakan penumpang walau harus delay sekali pun. Lion Air, beberapa kali gagal mengatasi komplain atas penundaan keberangkatan. Aku yakin, tidak ada satu pun maskapai ingin melakukan penundaan keberangkatan. Karena delay berarti penambahan biaya. Penambahan biaya adalah pengurangan profit. Sering-sering pengurangan profit sama dengan kerugian.

 

Tulisan ini dipublikasikan di Umum dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *