Jangan Rusak Resumemu

Anda pekerja? Jika ya, bersyukurlah, Anda masih punya pekerjaan. Masih banyak lho orang-orang di luar sana nggak punya pekerjaan. Tetapi, bagaimana kondisi Anda saat ini di perusahaan? “Aduh, aku sebenarnya pengen banget resign tapi belum dapat pekerjaan baru. Jadi ya kerja aja terus di sini.” Oh, oke. Banyak kok pekerja yang seperti itu.
Berbagai faktor di perusahaan bikin pekerja nggak betah bekerja. Ada yang karena atasannya nggak bisa berelasi dengan baik bawahan, ada yang karena nggak puas sama gajinya, ada yang nggak nyaman dengan lingkungan kerjanya, ada yang merasa hubungan dengan rekan kerja nggak bagus, bahkan ada yang memang nggak suka dengan pekerjaannya. Nah, Anda termasuk yang mana?

Dalam situasi seperti itu, sialnya, dibandingkan mencari tahu kepuasan kerja karyawannya, perusahaan lebih sering memperhatikan kepuasan pelanggannya. Bagi sebagian perusahaan, kepuasan pelanggan adalah nomor satu. Apa pun dilakukan demi pelanggan puas. Tanpa pelanggan, tak ada omset, yang berarti tak ada pemasukan. Apakah karyawanmu puas dengan pekerjaannya? Hhhmm…
Anyway, saya sedang tidak membahas hal itu. Nanti saja di tulisan berikutnya. Yang lebih penting saat ini adalah apa yang terjadi dengan Anda dalam situasi seperti itu? Gaji rasanya kok pas-pasan, bos cerewet buanget, terus teman-teman juga bekerja seadanya. Toh kerja bagus atau nggak, hasilnya sama aja.
Eiitss, tunggu dulu. Benarkah hasilnya sama aja? Kalau kita berpikir dalam situasi seperti itu, ya tentu saja. Perusahaan nggak punya kebijakan khusus buat top performer. Bonus tahunan toh diberikan secara merata, mau kinerjamu bagus atau nggak, bonusnya sama. Kenaikan gaji toh diberikan dengan persentase yang sama. Jadi untuk apa bekerja lebih?
Jawabannya, ya buat dirimu sendiri. Jika memang memutuskan jadi pekerja, bekerjalah dengan kemampuan terbaik yang Anda miliki. Jangan tanggung-tanggung. Tiap waktumu berharga untuk meningkatkan kompetensi dirimu. Tingkatkan keterampilan, tingkatkan pengetahuan, perbaiki sikap. Jika pengetahuan bisa kita dapatkan dengan membaca misalnya, tidak demikian halnya dengan keterampilan. Keterampilan perlu proses agar kita jadi menguasainya. Nah, begitu banyak pekerjaan di kantor yang bisa kita gunakan di kantor untuk meningkatkan keterampilan kita kan? Jadi kalau dikasih begitu banyak pekerjaan, jangan buru-buru mengeluh. Kalau sudah dijalankan dan terasa waktu kerja tak mencukupi untuk melakukan begitu banyak pekerjaan, sampaikan ke atasanmu.

Hal yang menurutku susah itu ketika kita mencoba menerapkan prinsip bekerja itu ibadah. Pernah coba nggak? Sumpah, susah banget. Pas kerjaan nggak ada habisnya trus gaji kagak naik-naik sementara pengeluaran tak tertahankan, beuh, gimana berpikir kerja itu ibadah? Bos aja nggak mau tahu, iya nggak? Iya dong. Aku lho pernah ngalaminya. Tips dari aku sih, kalau sudah begitu, sampaikan ke atasanmu. Jatah negosiasinya tiga kali. Kalau diabaikan juga, biarkan. Tuhan sedang menahan gajimu. Kelak pada waktunya, gajimu bahkan lebih besar daripada yang kamu harapkan.
Syaratnya, tetaplah bekerja dengan baik. Berikan kemampuan terbaik yang kamu miliki. Aku sering berkata sama rekan kantor, jangan resign kalau perusahaan belum besar! Nanti saat interview kamu ditanya, sebelumnya kamu kerja di mana? Perusahaan X. Hhhmm… Itu perusahaan bla bla bla. Si pewawancara cuma mengernyitkan dahi sambil berpikir dalam hati, itu perusahaan apa sih? Pertanyaan berikutnya, apa peranmu di perusahaan itu? Saya sih cuma staf pemasaran biasa. Terus, nggak ada bedanya gitu? Widih.. Memperkenalkan diri itu harusnya begini, Saya Ratna, saya staf pemasaran di perusahaan X. Selama bekerja, separuh omset perusahaan adalah omset saya. Pasti deh perusahaan itu jatuh cinta sama kita. Gaji? Bukan masalah lagi. Pastikan, keberadaan kita di sebuah perusahaan itu ada bedanya dibandingkan yang lain.
Pekerjaanmu, sejarahmu. Jangan rusak resume dengan kinerja yang tak memuaskan. Ingat, jika perusahaan bisa mem-PHK karyawannya, demikian sebaliknya. Karyawan bisa mem-PHK perusahaannya. Tetaplah bekerja sebaik mungkin karena jika perusahaan tak kunjung memperhatikan kepuasan kerja karyawannya, perusahaan lain siap memberikannya. Kesempatan itu hanya datang pada orang yang benar-benar siap untuk menerimanya.
.dikirim dari just_ratna.

Tersenyum, dengarkan hatimu, dan pergilah ke mana hati membawamu…

Tulisan ini dipublikasikan di Umum dan tag . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *