Surat untuk Anakku

Semalam mama berpikir, mama sudah melakukan kesalahan. Kesalahan utama mama adalah mengarahkan Ama sekolah di Jombang. Kesalahan berikutnya, menyerahkan keputusan memilih SMA itu pada anak yang baru tamat SMP.

Mama belum menghitung, permintaan pindah sekolah ini sudah berapa kali diutarakan Ama. Mungkin lima atau enam kali? Belum tahu.

Semalam mama mengulang kembali rekaman perjalanan Ama setahun ini. Maret 2013, menjadi awal perjalanan Ama menjadi santri di Jombang. Libur Galungan akhir tahun lalu, mama ambil cuti, kita berlibur ke Kediri. Tujuannya, melihat SMA Darul Ulum 2 Internasional BPPT Jombang. Dari informasi yang mama dapatkan, sekolah itu bagus. Plusnya, para siswanya tinggal di pondok pesantren. Artinya, ada kesempatan untuk belajar Islam secara benar. Selama ini, pengetahuan mama yang minim tentang agama mengantarkan pada ketidakmampuan mama mengajarkan Ama belajar Islam secara benar. Hal itu gampang dilihat. Ketika SD dan SMP Ama menghadapi masalah dalam pelajaran agama, mama selalu bilang, “Kalau agama tanya papa. Mama menyerah. Kalau pelajaran yang lain, bolehlah tanya mama.” Mama nggak bisa ngaji, nggak tahu akidah Islam, nggak tahu fikih. Itu kelemahan mendasar mama. Karena itu, ketika ada sekolah yang bagus dan tinggal di pondok pesantren, mama mengarahkan Ama.

Ketika keputusan itu dibuat, tak sedikit orang yang mengatakan, mama memaksa Ama. Kamu egois, kamu memaksakan kehendak. Ada pula yang berkata, mau dijadiin apa anakmu? Hati-hati, nanti jadi teroris. Satu-dua orang masih mengatakan hal itu sampai sekarang.

Tiap kali ada pernyataan seperti itu, mama selalu mengulang rekaman ingatan tentang sejarah Ama. Ketika pertama kali kita berkeliling pondok pesantren Darul Ulum, Ama bilang, “Aku mau sekolahnya, tapi nggak mau asramanya. Kalau boleh, aku kos aja.” Alasannya Ama simpel, nggak mau tidur di kasur tanpa dipan. Ketika di internet ada berita pembangunan asrama modern, kita mencari-cari asrama itu. Namanya, At Tin. Tapi tak ada satu orang pun yang tahu. Kita cuma menemukan satu asrama sedang dibangun tapi tak ada yang tahu namanya.

Kita melupakan soal pondok pesantren ketika Ama mulai sibuk mempersiapkan UN. Sabtu, 1 Juni 2013, pengumuman hasil UN SMP. Mama cek di situsweb. Nilai rata-rata 8,1. Lalu mama buat status BBM, nilai UN cukup untuk daftar DU. Ama balas status itu dengan status di BBM Ama, masuk DU, oh no! Nilai Ama rapor dari kelas 7-9, terutama nilai matematika, IPA, bahasa Inggris, IPS, dan bahasa Indonesia memenuhi syarat masuk DU. Pun begitu nilai rata-rata UN. Syarat minimal, 7,5.

Sampai di rumah, kita bahas soal itu. Ama tak mau. Tapi yang menjadi ganjalan mama adalah apakah nilai UN Ama diterima di sekolah negeri di Denpasar? Rasanya nggak. Perasaan itu mama buktikan dengan penelusuran di internet, jumlah lulusan SMP di Denpasar yang memiliki nilai di atas 8,1 jauh lebih banyak ketimbang kursi yang tersedia di SMA negeri. Belum lagi dipotong untuk kursi dari jalur prestasi dan pindah rayon. Satu-satunya kesempatan masuk SMA negeri hanya melalui jalur prestasi karena Ama punya piagam juara lomba fotografi tingkat provinsi dan 50 besar lomba fotografi tingkat nasional. Itu modal Ama masuk sekolah negeri di Denpasar.

Tapi, ketika itu mama ragu, apa iya juga bisa diterima? Mama punya akses untuk bertanya atau minta tolong agar Ama bisa diterima. Tetapi, mama nggak bisa ngomong. Mama malu. Walau ketika Ama kelas 8, mama pernah ketemu sama salah satu kepala sekolah SMA negeri di Denpasar dan mama bilang sembari bercanda, anak saya juara nih, nanti sekolah di sini ya. Secara bercanda pula, dia menjawab, ya Rp 5 juta aja dah. Terus mama balas candaan pula, nanti saya beritakan kalau gitu. Kami tertawa. Obrolan santai itu tak pernah mama seriusi. Sampai ketika menjelang masuk SMA, dorongan agar minta tolong itu muncul, mama nggak berani. Disuruh menemui, mama malah hanya SMS dan tanya, kapan mulai pendaftaran. Mama tahu, kalau mama ngomong aja, tanpa harus bayar, mungkin Ama bisa diterima. Tapi masalahnya bukan itu.

Hal ini sudah pernah terjadi ketika Ama masuk SMP. SMP 1 Denpasar menjadi salah satu impian lulusan SD masuk ke sana. Sebagai salah satu lulusannya, mama juga mendorong Ama masuk sana. Tapi Ama menolak. Nilai rapor Ama memenuhi persyaratan untuk tes potensi akademik. Mama tawarkan SMP 3 Denpasar. Ama juga menolak. Ama malas ikut TPA. Ama mau daftar sekolah pakai nilai UN aja. Mama setuju karena nggak mau memaksa Ama. Alhasil, ketika nilai UN Ama kurang 0,05 agar bisa diterima di SMA negeri pilihan Ama, mama pun mencari SMP swasta yang mama nilai bagus dan terjangkau bagi kantung mama. SMP Kristen 1 Harapan jadi pilihan. Mama ajak Ama ke sana untuk survei, Ama langsung setuju. “Oke, aku mau sekolah di sini,” kata Ama ketika itu. Setelah dapat persetujuan Ama, mama daftarkan. Alhasil, mama jadi bahan olok-olok. Ketika bertemu seorang teman, dia berkata, “Beh, bukannya SMP 1 malah SMPK 1.” Kami tertawa. “Yang penting sama-sama satu,” jawab mama. Teman yang lain berkata, “Kenapa nggak minta tolong aja?” Mama sudah pernah tanya ke salah satu komite sekolah negeri, dia memberikan ancer-ancer nilai minimal masuk sekolah itu pakai data tahun sebelumnya. Disarankan, pakai piagam. Lah, Ama kan waktu SD nggak pernah ikut lomba? Ketika papa ditawari temannya agar masuk SMP negeri lainnya dengan bayaran sedikit dan disuruh buat piagam juara palsu, mama menolak. Malu. Sudah jelas-jelas nilai UN nggak memadai, masak iya diterima? Waktu Ama dengar pembicaraan soal itu, Ama tanya kan, kok bisa diterima kalau nilainya nggak sesuai Ma? Mama bilang, ya disuruh bayar. Mama nggak mau. Masak cari sekolah harus bayar-bayar nggak jelas. Ama sudah mengajari mama, saat UN, guru pengawas Ama berusaha membantu kan? Ama bilang Ama nggak mau. Lebih baik nilai Ama jelek tapi itu nilai asli Ama ketimbang bagus dikasih tahu jawabannya. Mama seneng banget ketika itu. Pengalaman itulah yang mengajarkan mama.

Jadwal pengumuman penerimaan siswa baru di Kota Denpasar, 11 Juli. Tanggal itu sangat mepet dengan jadwal masuk sekolah, 15 Juli. Kalau Ama nggak diterima, dalam waktu tiga hari harus cari sekolah baru, mungkin jadi masalah.

Itulah sebabnya, mama cari sekolah swasta. Kalau di Denpasar, mama mencari tahu di SMA Taman Rama. Di sekolah itu ada Cambridges International Programmes. Menurut mama, masa SMA ini masa penentuan Ama dalam karier Ama ke depan. Jadi harus benar-benar tepat memilih sekolah.

Alternatif lain, kita bahas lagi SMA Darul Ulum 2 Jombang. Ketika itu, mereka sudah membuka pendaftaran online. Setelah berdiskusi bertiga (Ama, mama, dan papa), mama pun mendaftarkan Ama. Hanya coba-coba, toh belum tentu lulus. Kalau nggak lulus, nggak masalah. Karena itu, Ama tenang-tenang saja. Nggak belajar. Persiapan yang dilakukan cuma belajar TPA. Itu pun belajar sambil bermain. Mama jadi juri, pesertanya Ama sama papa. Yang kalah, pipinya dicoret bedak. Tiap soal, dibahas gimana cara memilih jawaban. Kita ngakak, soalnya Ama sering kalah terus nggak mau dicoret bedak. Akhirnya kita coret-coretan.

Jadwal ujian, Senin-Selasa, 24-25 Juni 2013. Minggu, 23 Juni kita daftar ulang. Peserta yang daftar online harus daftar ulang lagi ketika itu. Petugas yang melayani bertanya, “Anak satu-satunya kok disekolahin jauh-jauh toh Bu?” Weleh, pertanyaan orang ini sama aja dengan yang lain. Kalau mau jujur, orangtua mana yang mau berpisah dengan anaknya, apalagi anak satu-satunya?

Saat mama berharap Ama mau mondok, saat itu pula mama menangisinya. Sejak pulang dari survei pondok pesantren Maret 2013, mama khawatir kalau Ama benar-benar mondok. Mama membayangkan, bagaimana mama bisa hidup tanpa anak di rumah? Kalau sudah begitu, mama menangis. Mama bisa menangis di mana saja, bahkan saat menyetir motor sekali pun. Tapi sampai rumah, mama nggak boleh kelihatan nangis. Paling nangis pas mandi, keluar dari kamar mandi kan nggak kelihatan habis nangis hehehe.

Itu sebabnya, mama konsultasi sama Bu Retno yang psikolog itu. Mama takut salah ambil keputusan. Mama tanya, benar atau nggak ya kalau anakku mondok. Di pondok itu kan kehidupannya beda. Memang sih ada asrama yang pakai dipan, tapi kan pasti beda. Salma bisa nggak ya. Bu Retno malah tertawa. “Ini yang bermasalah anaknya atau mamanya sih?” katanya. Mama tertawa. Ya, mamanya. Menurut Bu Retno, kalau anaknya mau, ya didukung aja toh. Apakah mama keberatan karena Ama anak tunggal? Tenang, suaminya Bu Retno baru bisa menerima anak laki-lakinya kuliah di Yogyakarta setelah tiga bulan! Berarti bukan sindrom orangtua anak tunggal. Pesan yang paling mama ingat dari Bu Retno, anak memerlukan pengalaman hidup yang berbeda. Kalau selama ini dia bebas mendapatkan apa yang dia mau, hidup di asrama tentu berbeda. Pengalaman ini penting bagi anak-anak dan berguna bagi masa depannya. Hal itulah yang menguatkan mama. Jika Ama mau, hal itu sangat berharga bagi masa depan Ama. Pengalaman hidup, itu kuncinya.

Tapi apakah setelah itu mama berhenti menangis? Ya nggaklah. Mama tetap aja menangis. Menangis karena takut jauh dari Ama. Tiap kali mama menangis, mama ingatkan diri mama. Anak itu titipan Tuhan, sebagai orangtua kita harus membantunya tumbuh dan berkembang secara benar. Tapi tetep nangis hehehe. Mengingatkan diri lagi, pengalaman hidup buat Ama, bermanfaat bagi masa depannya. Nangis terus. Belum juga daftar, mama nangis tiap hari. Berkali-kali mama konsultasi sama Bu Retno. Mama bilang sama diri sendiri, kalau kelak dia kuliah di luar Bali, tetap berpisah juga kan? Nanti pasti juga begini. Walau mama yang mendaftarkan Ama, mama jadi orang yang paling sering nangis karena hal ini.

Ujian hari pertama, TPA dan ilmu pengetahuan umum. Ama nggak sempat makan siang gara-gara tempat ujian pindah lokasi. Kita berjalan cepat khawatir ketinggalan ujian. Setelah ke SMP Darul Ulum 1, kita diarahkan ke SMA Darul Ulum 1. Di sana ternyata tempatnya. Dari luar, mama lihat soal psikotes dari BPPT yang tersaji di layar. Rasanya kok lebih susah ketimbang saat mama ujian masuk S-3. Mama tertawa. Waktu istirahat mama tanya, gimana nduk? Ama menjawab, susah buanget Ma. Beberapa soal aku kosongin jawabannya. Ya nggak apa-apa. Kalau nggak lulus gimana? Ya nggak apa-apa. Anggap aja kita tamasya ujian. Hari itu kami akhiri dengan rasa lapar luar biasa.

Ujian hari kedua, wawancara, tes baca Alquran, TOEFL. Aku tahu, Ama bakal jeblok di ujian baca Alquran. Mamanya aja juz amma nggak khatam-khatam. Saat ditanya pengujinya, dulu sekolah di mana? SMP Kristen 1 Harapan, dia pun maklum. Mungkin penguji itu akan maklum lagi kalau dia tahu, saat SD Ama sekolah di SD Raj Yamuna, sekolah yang mengadopsi filosofi Hindu dan Jepang. (Ini sih alasan pembenar aja. Ama belajar ngaji privat on-off. Mama? Apalagi, parah!)

Keesokan harinya, kita pulang ke Bali. Ama bersiap-siap ikut Character Building Camp yang diadakan Biro Psikologi Pradnyagama milik Bu Retno. Kamis, 27 Juni, mama ke SMA 3 Denpasar. Mama mau mendaftarkan Ama melalui jalur prestasi. Tapi ditolak karena piagam Ama belum ada stempel dari sekolah asal. Mama pun ke SMPK 1 Harapan. Hari itu nggak bisa balik lagi ke SMA 3 karena loket pendaftaran sudah ditutup. Pukul 16.00, pengumuman penerimaan di SMA Darul Ulum 2. Mama buka situsweb, tak ada nama Ama di daftar siswa yang diterima. Mama kemudian ingat, Ama menyuruh mama mengisi pilihan alternatif; SMA Darul Ulum 1 Unggulan BPPT Jombang. Ternyata, Ama diterima di sana.

Papa protes. Bukannya di SMA Darul Ulum 2? Kok bisa di SMA Darul Ulum 1? Ya, dia yang suruh aku ngisi pilihan alternatif. Nurut aja toh. Mama ragu-ragu untuk mendaftarkan ulang Ama. Papa malah berusaha menahan agar tak didaftarkan ulang. Tunggu kepastian Ama. Tapi obrolan dengan Pak Nono, salah satu orangtua calon siswa SMA Darul Ulum 2 yang juga dari Bali menguatkan mama. Di sekolah mana pun dia diterima, SMA Darul Ulum 1 atau SMA Darul Ulum 3, saya tetap akan menyekolahkan dia di sini. Di sini anak kita dapat belajar agama Islam yang tak kita berikan selama bersama kita.

Jawaban Ama pun menguatkan mama. Waktu mama bilang Ama nggak diterima di SMA Darul Ulum 2 tapi diterima di SMA Darul Ulum 1, Ama bilang, daftarkan aja. Mama tanya, yakin? Yakinlah. Mama tanya lagi, yakin beneran? Yakin. Serius yakin? Jawaban terakhir Ama, kalau aku bilang yakin, ya yakin. Sudahlah, daftarin aja. Mama pun daftar ulang, bayar asrama. Papa masih berharap mama mendaftarkan Ama di Denpasar. Sampai Sabtu, 29 Juni, batas terakhir pendaftaran di Denpasar, mama pastikan tak mendaftar sesuai permintaan Ama.

Selasa, 2 Juli 2013. Ini hari penyerahan santri ke asrama. Mama nggak bisa sampai malam karena mengejar jadwal terbang ke Bali. Saat di seberang jalan layang, papa menelepon. Gimana anaknya, tegar? Mama langsung marah. Nggak usah ditanya gitu. Aku sendiri nggak sanggup berpisah sama dia. Mama menangis sesenggukan. Dada ini rasanya sakit sekali. Mungkin seperti orang patah hati. Mama nangis dari Jombang sampai Surabaya. Di bandara, mata mama sembab. Air mata ini tak berhenti menetes karena harus berpisah dengan Ama. Orang di sebelah mama sampai nggak berani menegur. Mama pakai main game, tapi di layar ipad itu malah yang terlihat wajah Ama. Mama terus menangis. Karena risih, mama ke toilet. Petugas kebersihan sampai memberikan toilet bagi penyandang cacat. Nangis di sana aja Bu, biar nggak kelihatan orang. Nangis sampai puas. Mama nangis di sana sampai waktu keberangkatan. Dada ini benar-benar sesak. Tangisan ini tak bisa berhenti walau mama di pesawat. Waktu mau mendarat, mama berusaha menahan. Sampai di mobil, mama nangis lagi. Papa hanya diam melihat mama. Mungkin papa pengen nangis, tapi lihat mama nangis, papa hanya bisa diam. Setelah hari itu, hari-hari berikutnya sepi banget. Tiap bangun tidur mama nangis lagi. Mama berusaha sibuk supaya nggak fokus mikirin Ama. Tapi tiap saat, bayangan Ama melintas di pikiran.

Mama beruntung Ama pulang saat libur puasa dan Lebaran. Jaraknya nggak terlalu lama ketika itu. Rasa sepi muncul lagi ketika pulang dari Kediri, kami hanya bertiga saja; mama, papa, dan mamak. Di mobil kami hanya diam. Kami tak ada yang berani menyebut nama Ama, takut Ama kepikiran.

Lambat laun, kami menata hati. Selalu berpikir, apa yang kami lakukan adalah demi kebaikan Ama pada masa depan. Yang bisa kami lakukan adalah memberikan yang terbaik buat Ama; sekolah yang bagus, asrama yang bagus. Apa pun yang terbaik, ingin kami berikan pada Ama.

Mama bangga ketika di Kediri Ama bisa mengumandangkan shalawat. Ya Allah, begini hasil yang telah Engkau berikan. Mama senang sekaligus malu karena mama nggak ngerti shalawat apa yang Ama kumandangkan. Mama bangga ketika Ama bisa menulis cerpen. Bahkan dalam situasi jadwal padat kegiatan, Ama malah bisa menulis cerpen. Ketika di Bali, Ama malah susah banget disuruh nulis walau cuma satu paragraf. Mama bangga, Ama sudah cepat dalam membaca. Itu artinya, Ama baca banyak buku. Saat di rumah penuh waktu luang, rak buku pun jarang disentuh. Mama bangga, Ama bisa duduk tegak tanpa mama tepuk punggungnya. Mama bangga, Ama bisa duduk bersila tanpa kesemutan. Mama akhirnya ikut belajar bersila tiap hari. Mama senang, Ama lebih bugar ketimbang di Bali. Bahkan Ama nggak ngos-ngosan ketika kita mengejar bis di Jombang. Mama bangga, Ama bisa mengambil keputusan saat ada masalah laundry di asrama. Ama pilih laundry di luar. Ama bangga, Ama bisa menghargai uang lebih baik ketimbang saat di rumah. Mama bangga, Ama bisa melalui semester satu tanpa banyak keluhan. Mama bangga, Ama bisa ngaji. Mama bangga, Ama bisa menulis pego. Mama bangga, Ama bisa berbagi dengan teman. Banyak orang bilang, anak tunggal itu egois, tak bisa berbagi. Tapi Ama membuktikan, hal itu nggak benar. Ama sangat bisa berbagi. Mama bangga, Ama bisa mengerti bahasa tubuh dan intonasi mama, lalu bereaksi secara tepat. Mama bangga, Ama terbuka sama mama. Seperti pesan mama sejak Ama SD, apa pun yang terjadi ceritakan sama mama. Kini, Ama melakukannya. Mama bangga, Ama bisa mengerti bahasa Jawa. Ama lebih mengerti bahasa Jawa halus daripada mama saat ini. Mama bangga ketika wali kelasmu bilang, Ama sudah berani presentasi di depan kelas. Hal yang tak pernah terjadi selama di Bali. Mama yakin, masih banyak hal yang perlu mama banggakan dari Ama. Kalau mama tulis satu per satu, bisa habis halamannya.

Sekarang mama sedang galau. Mama perlu petunjuk Allah, juga meminta nasihat Bu Retno. Apa yang harus mama lakukan? Apakah ini sebuah kesalahan mengambil keputusan? Jika Ama masih ingin pindah sekolah, apakah lebih baik pindah saja? Mama akan tanya prosedur pindah sekolah, pada saat yang sama, mama juga salat tahajud secara rutin. Atau, Ama hanya sedang mengalami kegalauan yang memang dialami semua santri pada waktu setahun pertama di pondok pesantren? Jika begitu, bukankah pindah sekolah tak menyelesaikan masalah? Kita harus berlatih menghadapi masalah, bukan menghindarinya, bukan begitu? Mama yakin, semua yang terjadi adalah kehendak-Nya. Dan, kehendak-Nya pastilah kebaikan. Bisakah Ama menolong mama dengan salat tahajud atau istiharah secara rutin? Mungkin petunjuk yang kita terima perlu disatukan setelah itu. I love you.

Tulisan ini dipublikasikan di Personal dan tag . Tandai permalink.

Satu Balasan ke Surat untuk Anakku

  1. Sirojul Lutfi berkata:

    Sekarang Ama sudah lulus dari pondok DU, Bu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *