Menakar Kelayakan Menerbitkan Koran

Saya tak habis berpikir, saat situasi seperti ini, masih banyak saja media baru lahir. Tujuannya sudah pasti sih, dapat untung. Tapi apa iya semudah itu bisa untung?

Karena saya lebih banyak pengalaman di media cetak, saya pakai asumsi membuat media cetak saja. Kalau mau membahas apakah sebuah media bisa untung, kita bisa mengevaluasinya dari laporan rugi laba perusahaan. Nah, dari laporan rugi laba itu juga kita bisa membuat anggaran keuangan perusahaan. Mau laba atau rugi?

Dalam laporan rugi laba, secara garis besar, pendapatan utama adalah dari iklan dan sirkulasi. Ada juga pendapatan lain-lain, biasanya jika media tersebut memiliki divisi lain, seperti event organizer atau penerbitan. Tapi karena bukan bisnis inti, tak perlu dibahas secara detail. Sedangkan biaya yang pasti muncul adalah ongkos cetak, biaya produksi langsung, biaya penjualan, biaya administrasi dan umum serta biaya lain-lain.

Secara sederhana, keuntungan sebuah media akan terjadi jika ada surplus dari perbedaan pendapatan dan pengeluaran. Kalau minus, yo wis jelaslah perusahaan itu rugi.

Baiklah, sekarang hitung-hitungan saja. Andaikata saya mau membuat koran harian. Untuk menentukan harga cetak, saya harus menentukan spesifikasi koran yang akan saya terbitkan, yaitu ukurannya, jenis kertas yang digunakan, jumlah halaman, jumlah halaman berwarna, dan oplah.

Saya putuskan saja, ukurannya 325 mm x 540 mm. Ini hitungan koran dengan lebar tujuh kolom. Ketebalan, 12 halaman (jika berbentuk koran, biasanya jumlah halaman berdasarkan kelipatan empat). Jumlah halaman ini juga menentukan tingginya ongkos cetak. Makin tebal, makin mahal. Jumlah halaman berwarna, empat halaman. Makin banyak halaman berwarna, biaya cetak makin mahal. Jadi agar menarik, empat halaman ini saya gunakan untuk halaman depan (dan otomatis halaman belakang, karena dalam proses cetak, platnya jadi satu). Dua lagi, saya pilih halaman tengah (otomatis ada dua halaman berwarna di tengah). Terakhir, oplah. Nah, ini yang agak ruwet. Saya harus buat berapa ya? Hal ini terkait dengan pasar sasaran. Siapa yang mau saya sasar? Berapa kebutuhannya? Kalau saya cetak 1.000 eksemplar, apakah nutut? Bagaimana kalau langsung 20 ribu eksemplar? Hhmm…itu nanti saja dibahas. Karena saya bukan pemodal besar tapi berupaya ingin dapat untung dari bisnis ini, saya uji coba dulu dengan cetak 1.000 eksemplar. Risikonya, makin sedikit oplah, makin mahal ongkos cetaknya. Misalnya, koran 12 halaman, ukurannya 325 mm x 540 mm, empat halaman berwarna, jenis kertas CD, dan oplah 20 ribu eksemplar, biaya cetaknya Rp 2.000 per eksemplar. Kalau oplahnya hanya 1.000 eksemplar, biaya cetaknya bisa Rp 3.500 per eksemplar (by the way, ini hanya asumsi. Kalau mau lebih pasti, tanya ke percetakan hehehe). Namanya bisnis, selalu ada risiko yang mengintai. Ya sudahlah, saya tetapkan 1.000 eksemplar saja.
Oke, saya sudah dapatkan biaya cetaknya, yaitu Rp 3.500.000 (Rp 3.500 x 1.000). Itu biaya cetak per hari. Kalau terbit harian, asumsikan 30 hari dalam sebulan, berarti saya perlu modal biaya cetak sebesar Rp 105 juta per bulan.

Biaya terbesar kedua adalah biaya produksi langsung. Sebenarnya, dalam laporan laba rugi, ongkos cetak termasuk dalam biaya produksi langsung. Tapi karena biaya ongkos cetak memiliki persentase pengeluaran yang besar, saya memilih memisahkannya. Dalam biaya produksi langsung ini, sumber pengeluaran yaitu dari divisi redaksi, seperti gaji redaksi, honor kontributor, dan tunjangan. Besarnya pengeluaran ini ditentukan oleh jumlah halaman yang telah ditetapkan di awal. Berapa halaman yang dibuat? 12 halaman? Rubrik apa saja yang disiapkan? Berita seperti apa yang disuguhkan? Apakah bentuknya straight news, features, atau investigasi? Berapa naskah yang diperlukan untuk mengisi satu halaman? Seberapa panjang naskah yang ditetapkan?

Dengan ukuran 325 mm x 540 mm, lebih kurang harus tersedia satu naskah sepanjang 12 ribu karakter ditambah 2-3 foto. Dari mana saja berita itu berasal? Apakah memproduksi sendiri atau membeli dari kantor berita? Jika ingin memproduksi seluruh berita sendiri tanpa membeli dari kantor berita, pertanyaan berikutnya, berapa wartawan yang diperlukan untuk mengisi satu halaman? Jika dipecah menjadi enam berita straight news dalam satu halaman, apakah memungkinkan satu wartawan menulis enam berita tersebut sekaligus? Hhmm…bagaimana kalau saya menetapkan satu wartawan menulis empat berita per hari? Oke, final.

Pertanyaan berikutnya, berapa halaman yang diperuntukkan bagi berita dan berapa halaman diperuntukkan bagi iklan? Apakah ada halaman bagi pembaca? Jika tidak ada iklan, apakah redaksi akan mengambil alih halaman iklan tersebut? Baiklah, saya putuskan ada satu halaman untuk pembaca menulis, dua halaman iklan. Dengan catatan, halaman iklan ini dipaksa ada iklan. Ada nggak ada iklan, harus ada iklan. Walaupun yang dipasang iklan tanpa bayar. Dengan begitu, mudah bagi saya menghitung berapa jumlah wartawan yang saya perlukan.

Tadi saya putuskan, satu wartawan menulis empat berita dengan panjang 2.000 karakter per berita per hari. Itu berarti, satu halaman harus diisi enam berita. Total halaman yang diisi redaksi, sembilan halaman. Kebutuhan berita per hari, 54 berita dengan panjang 2.000 karakter per hari. Dengan target empat berita per hari, diperlukan wartawan sebanyak 14 orang. Pada titik aman, wartawan yang disediakan 15 orang. Berapa redaktur yang diperlukan untuk menyunting halaman ini? Jika satu redaktur ditarget dua halaman, berarti ada lima redaktur yang diperlukan.
Nah, berikutnya yang perlu dihitung adalah berapa biaya gaji divisi redaksi ini? Apakah wartawan akan digaji sesuai UMK atau di atas UMK? Bagaimana dengan gaji redaktur? Kalau digaji sesuai UMK, wartawan itu katanya profesional bukan buruh. Wartawan berhak dibayar lebih tinggi dibandingkan UMK. Tetapi, di satu sisi, usaha ini adalah bisnis. Belum apa-apa sudah kasih gaji besar, apa iya perusahaan bisa hidup? Ya, karena saya pengusaha, saya gaji wartawan sesuai UMK saja. Redakturnya dikasih lebih tinggi. Anggap saja, UMK Denpasar ini adalah Rp 1,6 juta per bulan. Berarti pengeluaran gaji wartawan sebulan sebesar Rp 24 juta. Kalau redakturnya saya gaji Rp 3 juta per bulan, saya keluarkan gaji redaktur Rp 15 juta sebulan. Total pengeluaran gaji divisi wartawan dan redaktur adalah Rp 39 juta per bulan.
Itu baru wartawan dan redaktur. Belum desainer grafis, sekretaris redaksi, redaktur pelaksana, dan pemimpin redaksi. Kalau ada empat orang desainer grafis dengan gaji UMK, berarti pengeluaran gaji ditambah Rp 6,4 juta per bulan. Gaji sekretaris redaksi Rp 2 juta per bulan, gaji redaktur pelaksana Rp 6 juta per bulan, dan gaji pemimpin redaksi Rp 12 juta per bulan. Total, Rp 65,4 juta per bulan. Belum termasuk tunjangan transpor, uang makan, tunjangan pulsa, atau honor kolomnis. Jika tunjangan makan Rp 10 ribu per orang per hari, biaya ini akan berjumlah Rp 7,8 juta per bulan. Jika tunjangan transpor wartawan dan redaktur Rp 10 ribu per orang per hari, biayanya Rp 6 juta per bulan. Jika tunjangan pulsa Rp 100 ribu per hari, biaya ini sebesar Rp 2 juta per bulan (hanya redaktur dan wartawan). Biaya tunjangan redaktur pelaksana Rp 250 ribu per bulan, sedangkan tunjangan pemimpin redaksi Rp 500 ribu per bulan. Biaya honor kolomnis, anggarkan saja Rp 2 juta per bulan.

Bagaimana dengan pengeluaran di pos penjualan? Berapa orang yang ditugaskan di bagian sirkulasi dan iklan? Di bagian sirkulasi, tentukan saja lima orang, dua orang ditempatkan di bagian administrasi. Di bagian iklan, tiga orang di bagian administrasi, tiga orang di bagian pemasaran langsung. Masing-masing dengan satu manajer. Berapa gaji yang diperlukan? Sama saja level staf dengan gaji wartawan, masing-masing Rp 1,6 juta. Sedangkan gaji manajer, Rp 3 juta. Berati, total biaya gaji di pos penjualan ini Rp 23,6 juta per bulan. Belum termasuk biaya promosi dan transportasi. Rata-ratakan, biayanya Rp 5 juta sebulan.
Berikutnya, pengeluaran di pos administrasi dan umum. Biaya yang muncul di pos ini antara lain gaji karyawan administrasi, sewa kantor, pemeliharaan kendaraan, administrasi kantor, biaya listrik, biaya telepon, biaya pemeliharaan dan penyusutan inventaris. Andaikata diperlukan dua orang di bagian administrasi, satu orang resepsionis, dan satu manajer dengan gaji sama dengan karyawan di divisi lain, gaji yang dikeluarkan sebesar Rp 7,8 juta per bulan. Anggarkan saja biaya lainnya Rp 30 juta per bulan. Total pengeluaran di pos ini Rp 37,8 juta per bulan.
Jadi, berapa ya total pengeluaran seluruh pos? Berikut ringkasannya.

tabelBaiklah, saya sudah dapatkan total anggaran pengeluaran dalam per bulan. Berapa? Rp 255.350.000. Pertanyaannya sekarang, berapa keuntungan yang saya rencanakan dari anggaran ini? 10% atau 20%? Ya, jangan banyak-banyak, sebagai pemula, cukup 10%. Artinya, saya harus mendapatkan pendapatan sebesar Rp 280.885.000 per bulan. Dari mana? Ya penjualan koran dan iklan. Mampukah?

Jika harga cetak Rp 3.500 per eksemplar, artinya saya harus menjual lebih daripada itu. Jika komisi agen 20%, harga dasar Rp 4.200 per eksemplar. Kalau komisi agen 30%, harga dasar Rp 4.550 per eksemplar. Itu harga tanpa keuntungan. Jika mau untung dengan komisi agen 20%, saya harus jual Rp 4.500 per eksemplar. Lakukah koran setebal 12 halaman dijual Rp 4.500 per eksemplar? Anggap saja laku. Jika laku semua, berarti dapat penjualan koran Rp 135 juta per bulan (asumsi 30 hari, 1.000 eksemplar x Rp 4.500).

Selisihnya, Rp 145.885.000 mau tak mau harus dibebankan kepada bagian iklan. Mampukah? Halaman iklan yang tersedia hanya dua halaman. Artinya, iklan harus dijual Rp 4.862.833 per halaman per hari dan harus terisi tiap hari.
Jika asumsi itu berjalan, semua koran laku, iklan terisi terus, tak masalah. Yang masalah, kalau koran tak laku, iklan tak pernah terisi. Kalau begitu, layakkah saya membuat koran?

Denpasar, 19 Januari 2014
Catatan: asumsi koran yang akan saya buat ini adalah media yang tidak masuk dalam konglomerasi. Itu pun dengan beragam asumsi biaya 😀 Jika konglomerasi, akan lain ceritanya.

 

Tulisan ini dipublikasikan di Media dan tag , . Tandai permalink.

2 Balasan ke Menakar Kelayakan Menerbitkan Koran

  1. Hendry Ch Bangun berkata:

    Menarik sekali tulisannya, tetapi masih belum serealistis kenyataan, terutama tentang mekanisme pasar, yang sangat mempengaruhi apakah sebuah suratkabar bisa segera dikonsumsi masyarakat, atau dibeli, atau bahkan dapat beredar, karena persaingan yang luar biasa dan besarnya peran agen.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *